Tampilkan postingan dengan label Tiada kesan tanpa komentarmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiada kesan tanpa komentarmu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2010

Saat Ku Diberi Kesempatan

Tahun ini, 2010, adalah tahun yang penuh tantangan dan cobaan bagi saya. Dari awal tahun, dimana saya dan keluarga di rumah melakukan rutinitas kumpul keluarga, tahun ini di puncak, saya mendapat doa baru. Doa agar sekiranya saya dapat menemukan pangeran impian saya. Hahaha geli campur senang mendengarnya. Malu juga memang sudah mulai di mata-matai secara tidak langsung, hehehe. Mungkin ini juga motivasi saya untuk melepas pergi "Lucky Irene". Hari-hari saya saat pertengahan tahun ini disibukkan dengan program magang yang saya ikuti. Seru juga bertemu orang baru lagi. Senang dapat pengetahuan baru. Meskipun pasti ada sisi yang kurang berkenan tapi itulah proses belajar, kadang menyenangkan kadang tidak. Saat itu tepatnya tanggal 08 Juni 2010, saya diharuskan mengikuti program magang yang saya inginkan di Bank Indonesia. Saya sempat kaget juga, karena bersamaan dengan itu saya pun harus mulai masuk kursus lanjutan TOEFL di tempat Myles dan Mark berada, hahaha. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus saya jalani keduanya.
Awalnya lelah juga harus kerja rodi untuk membagi waktu antara selesai magang lalu langsung kursus. Tapi setelah dijalani, bisa juga ternyata, hehe. Hari pertama masuk kelas kursus itu, saya kaget. Hanya delapan siswa, sudah seperti semi privat. Haduh tidak bisa bebas berekspresi juga, karena tujuh orang perempuan dan seorang lelaki, dan hanya kami bertiga perempuan yang berasal dari kampus yang sama. Sedangkan yang lain berasal dari Institut yang terkenal dengan keseriusan mahasiswanya menjalin materi kuliah. Pertama kali masuk, saya langsung sadar keadaan kelas dengan lelaki yang hanya seorang. Lelaki yang ganteng, tapi terlihat serius sekali, hmmm hanya melihat ke buku dan guru saja. Tidak pernah terpikirkan untuk dapat kenal dengan orang yang kelihatannya seperti itu. Seperti keajaiban saja kalau bisa kenal, itulah yang saya pikirkan saat itu. Tapi lumayanlah ada pemandangan, hahahaha. Namun, siapa sangka tiba-tiba saya harus kenal dia, saya mendapat pembelajaran dari dia, sosok yang mirip sama saya.
Mungkin saat itu minggu kedua saya magang. Saya yang selalu pulang sore, memiliki dua pilihan. Pertama, jika damri cepat datang, saya akan sempat bersih-bersih dulu di kosan lalu berangkat kursus. Kedua, kalau keadaan pertama terjadi sebaliknya, mau tidak mau saya langsung pergi ketempat kursus. Waktu itu saya sudah berencana untuk menjalankan pilihan pertama, namun ternyata undangan makan sushi bersama lebih menggiurkan saya yang memang suka makan, hehe. Jadilah saya nekat untuk makan, padahal saya tidak bawa buku materi kursus saat itu. Masih bisa pinjam, pikir saya. Keasyikan makan sushi, ditambah insiden Ms. Kingkong, saya pun mengalami keterlambatan. Jadilah saya yang paling akhir masuk kelas. Malu dan kurang sopan bila harus melewati guru yang duduk di tengah, demi mencapai tempat duduk teman sekampus yang membawa buku, saya pun duduk di kursi terdekat. Dan baru sadar, ternyata saya duduk dekat dia. Hari itu hari perkenalan (karena gurunya ada dua), dan saat saya masuk, saat itu dia sedang memperkenalkan diri. Terpotong dengan kedatangan saya lalu saya pun langsung disuruh memperkenalkan diri (aduh tidak dikasih kesempatan bernapas dulu ya, tadi lumayan tergesa-gesa). Setelah selesai memperkenalkan diri, saatnya materi. Waduh, saya tidak bawa buku dan saya tidak mungkin lagi pindah tempat duduk. Jadilah dengan wajah tebal dan konyol, saya pun menanyakan apakah bukunya bisa dipakai bersamaan dengan saya? Untungnya dia dengan wajah selamat datang mengiyakannya dengan kata-kata yang selanjutnya lumayan tidak enak, yakni, berarti yang ini sama yang ini tolong dikerjain ya. Weits, asas manfaat, ckckckck.
Lalu setelah hampir selesai jam kursus, saya bertanya sama dia, namanya (jujur, paling susah menghapal nama). Namanya singkat, tiga hururf saja (syukur jadi gampang diingat). Lalu saat pulang, saya mengucapkan terima kasih atas bukunya, sembari menyenggol tangannya. Dia kelihatan kaget sekali (ekspresi yang berlebihan buat saya), dan langsung mengiyakan. Lalu yang buat saya kaget, dia menawarkan untuk mengantarkan pulang. Wah lumayan juga pikir saya (contoh orang tidak mau rugi, jangan ditiru kalau bisa, hehe), karena saya selalu pulang jalan kaki, sekalian berpikir buat olahraga juga. Selagi ada yang berbaik hati mengapa mesti ditolak, hehehe. Sepanjang perjalanan saya yang bingung harus berbicara apa, akhirnya hanya diam saja, mengucapkan terima kasih saat sampai depan jalan besar (saya tidak mau merepotkan dia yang bawa mobil untuk masuk ke dalam gang yang penuh pedagang makanan), dan turun. 
Dua hari berikutnya, saya tidak pulang bersama dia. Entah mengapa saya sedih, sampai besoknya saya menangis sambil makan sushi (hahaha yang ini sebenarnya salah satu kehebatan saya, yang tetap harus makan dalam keadaan apapun - malas kalau harus dirawat di rumah sakit lagi sebenarnya - hehehe). Minggu depannya saya pun berusaha bersikap biasa, meskipun saya duduk bersebelahan dengan dia, tanpa sengaja. Namun, entah mengapa saya susah menolak ajakan dia untuk mengantarkan saya pulang. Saya pun sempat berpikir, mengapa sama diri saya ini, saya merasa jadi orang lain. Mungkin pada dasarnya memang saya dan dia kurang memiliki kemampuan berkomunikasi lisan dengan baik atau mungkin memang sudah mulai ada udara yang berbeda saat itu diantara kami berdua, obrolan kami pun terasa kaku, hingga saya turun dan merasakan betapa bodohnya obrolan kami yang kedua itu, hahaha. Keesokan harinya, saya berusaha bersikap biasa, apalagi dia mengajak dua teman saya yang lain turut serta untuk diantarkan pulang. Baguslah, mereka yang ngobrol, saya duduk manis, hehe. Hari ketiga minggu ketiga, saya dikagetkan dengan dia yang membawa bulatan besar ke kelas. Bola? Bukan, ternyata helm. Wew, saya kaget. Kami yang seperti terprogram duduk sebelahan (saya memang suka telat atau suka terlalu cepat datang, dan dia terkadang melakukan hal yang sebaliknya saya lakukan itu), jadi terkadang merasa tidak enak dengan yang lain. Apalgi hari itu 23 Juni 2010, saya pertama kalinya diantar pulang dengan motornya. Sembari dijalan pulang, saya yang memang kelaparan mengoceh, mau makan dulu tidak? Dia kaget (lagi-lagi) sambil berkata, tadinya saya juga mau ngajak makan. Heh? Kaget juga saya, senang, kami punya pemikiran yang sama, tapi saya jadi diam, tidak tahu harus ngomong apa. Setelah mutar mencari tempat makan yang menurutnya enak saja, secara orang lapar yang penting makan, hehehe. Dapat juga memang, tempat langganan dia, tapi dia jadi keasyikan nonton Piala Dunia, hahaha, saya pun ingin bergegas pulang supaya bisa teriak sepuasnya. Saat makan itu, saya yang telepon selularnya sedang eror karena jatuh, memang ingin menguji apakah benar masih dapat berbunyi atau tidak, tanpa sadar meminjam telepon dia untuk sekedar misscalled ke nomor saya. Obrolan kami seperti sahabat yang kenal lama, karena saking banyaknya saya nanya tentang kehidupan dia (hanya kehidupan sehari-hari dan keluargnya melanjutkan obrolan yang kemarin-kemarin saja) dan dia menjawabnya, dia pun jadi tidak segan-segan membuka helmnya sepanjang jalan untuk ngobrol dengan saya. 
Malamnya saya mencoba sms dia (disinilah letak kesalahan saya pada awalnya, saya selalu mendatangi lebih dahulu), saya hanya mengucapkan terima kasih atas traktiran makan malamnya. Sms kami pun berlanjut soal Piala Dunia, masing-masing punya jagoan, hehehe. Meskipun akhirnya jagoan kami berdua kalah, tapi tetap Jerman yang pulang lebih dulu, hahahaha. Esok dan esoknya lagi saya tidak menolak diantarkan dia pulang. Mulut saya seperti terkunci dengan kepala saya yang menggangguk. Pernah suatu hari di minggu terakhir (kalau tidak salah ingat), saya memang mendengar banyak masalah di rumah, saya pulang saja kekosan, langsung berjalan kaki sambil mencari ketenangan. Tiba-tiba dia menyusul saya dengan motornya, saya pun lagi-lagi tidak kuasa menolak, akhirnya diantarkan pulang, tapi dengan saya yang sedang banyak masalah, saya tidak ingin sendirian, saya ingin makan. Akhirnya dia pun menemani saya makan sambil mendengar ocehan saya. Huhu, egoisnya saya yang menyita waktu belajarnya padahal dia katanya ada ujian besok. Maaf ya, kata saya selesai mengoceh, hehehe. Komunikasi kami hanya sebatas sms, itupun lebih banyak saya yang memulai, dan kemudian berlanjut ke om yahoo lalu tante facebook. Hanya beberapa kali dia sms duluan, itupun kalau saya tidak muncul dikelas.
Seperti saat adik saya datang untuk liburan. Saya yang sibuk dengan magang dan kursus jadi merasa bersalah juga kalau tidak sempat menemani dia. Saya pun berusaha paling tidak memenuhi pesanan oleh-oleh adik saya. Bonibo yang sudah tahu saya sedang dekat dengan seorang lelaki itu pun, mengatur strategi untuk saya bersama kedua teman saya. Mereka menyuruh saya untuk pergi bersama dengan lelaki itu membeli semua oleh-oleh yang diinginkan oleh adik saya. Jadilah saya dengan pasang wajah tebal, komunikasi yang membingungkan, diantar oleh lelaki itu untuk membeli oleh-oleh. Letak daerah yang cukup jauh, waktu dia pun tidak banyak, disibukkan oleh belajar dan bisnis, tapi dia masih mau mengantarkan saya ke Paris van Java hanya untuk membeli Yoghurt, lalu ke Cihampelas untuk membeli sale pisang (yang ternyata sudah tutup), hmmm baik sekali dia, itu yang saya pikirkan. Sepanjang jalan, lagi-lagi saya yang kebanyakan berkicau, saya jadi merasa dia robot. Mungkin topiknya tidak menarik, atau topik saya tidak dipahami, atau entahlah. Kejadian lucunya, saat pulang, kami sempat salah paham soal tempat dimana kami bertemu dengan adik juga kedua teman saya. Ada dua tempat dengan nama yang sama, tapi saya yang salah kaprah. Pada akhirnya bertemu, dan mereka berkenalan, ya mereka pun ingin tahu bagaimana rupa lelaki itu, dan yang membuat saya malu, saya dibilang "bego" sama adik sendiri depan dia. Saya pun balik berkata, bilang terima kasih sama dia. Hahaha, kocak, gila, Bonibo, Bonibo.
Esoknya pagi hari saya menemani adik saya ke Odjolali, membeli sale pisang rasa blueberry kesukaan kami semua (baca: saya, adik saya, keluarga di rumah, dan teman-teman adik saya) sebelum mengantarkan dia pulang memakai travel. Malamnya saat kursus, saya yang masih merasa tidak enak sudah merepotkan dia begitu banyak, hanya bisa memberikan sale pisang rasa blueberry, yang kata dia belum pernah dia makan, saat (lagi-lagi) diantarkan pulang. Saat sampai kosan, antara perasaan senang atau sedih, merasakan minggu depan adalah minggu terakhir, dimana dengan rutinitas yang saya punya, saya bisa bertemu dia. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hari pertama minggu terkahir itu seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya di atas, saya ditemani makan olehnya. Saat pulang yang paling mengejutkan saya adalah tetangga depan kosan saya ada yang meninggal. Udara sekitar tidak enak jadinya, menimbulkan perasaan yang tidak enak, apalagi saat itu saya sendiri di kosan (yang lain entah kemana). Saya pun dengan kesuksesan mencapai ketidakseimbangan berpikir tingkat tinggi (selamat berpusing ria dengan membaca bahasa saya, hahaha), mengirimkan dia sms, yang pastinya tidak dibalas, yang membuat saya kesal. Untungnya masih ada teman sekitar yang mau membuka pintunya untuk saya, hehehe. 
Besoknya saya pulang ke rumah, mencoba mengetahui apa yang terjadi, dan berusaha menenangkan Emak saya yang sendirian menghadapi ini, karena Bapak sedang dinas di Nabire, Papua. Saya pun mendapat pencerahan, dan bersiap menghadapi hari esok (wedeh, lagi-lagi bahasa saya, hahaha). Hari itu saat saya di rumah, dia pun mengirimkan sms menanyakan kabar saya, dan apakah saya benar pulang ke Jakarta. Saya balas keesokan harinya, karena hari itu cukup melelahkan. Esok harinya, saya langsung ke Bandung, magang di tempat yang berbeda, saya baru ingat belum mengirimkan sms balasan, lalu saya kirim sms. Saat kursus dia mungkin kaget (hahaha) tiba-tiba saya sudah muncul kembali. Tapi sempat tidak ada acara pulang bersama, karena dia memiliki janji dengan klien bisnisnya. Padahal kalau boleh jujur, saya tidak ingin melewatkan kesempatan yang hanya sebentar lagi sama dia. 
Hari terakhir, saat dimana saya merasa harus mengajak dia makan bersama lagi, saya yang merasa akan jauh setelah ini, saya yang juga ingin mencoba sesuatu yang baru di Braga, namun keburu tutup, dan akhirnya memilih makanan orang putus asa, nasi goreng. Mengapa saya sebut demikian? Karena dimana-mana ada penjual nasi goreng, pagi, siang, dan malam, sudah seperti makanan wajib orang Indonesia. Obama saja memilih nasi goreng sebagai menu yang diinginkan saat kedatangan dia kemarin. Lihat, nasi gorang bisa kita jadikan ciri khas loh, hahahaha. Kembali, kembali. Saya yang hari itu hanya bisa diam sepanjang perjalanan, menikmati kemungkinan terakhir dibonceng sama dia. Saya yang seharusnya memakai baju yang berwarna maroon sepadan sama baju biru-maroon yang dia pakai juga tapi saya malah memakai baju ungu-kuning. Saya yang hari itu mengetahui rencana dia yang batal untuk mengajak saya dan dua teman saya bersuka ria. Campur aduk, senang atau sedih, tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Saat melihatmu, mengenalmu, dan menjalani lima minggu denganmu, mungkin itu saat terbaik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku (berlebihan? terserah saja, hahaha). Kurasa telah berakhir, ternyata tidak, karena sesungguhnya baru akan dimulai.
# Aku ingin jadi kita, kita ingin jadi kami, kami ingin jadi semua, semua ingin jadi satu, satu dalam Tuhan #

Saat Bertemu Sosok yang Lain

Hari ini sebenarnya hari yang berat untuk saya. Masalah saya semakin berat, semakin menghimpit, sampai saya tidak tahan lagi untuk menahan derasnya air mata yang keluar. Keinginan buang air besar hilang seketika saat tahu perkembangan masalah saya itu. Untung ada Laxing! (maaf iklan, hahaha). Saya pun seperti akan berputus asa. Tapi timbul keinginan untuk menulis, melanjutkan kisah romantika saya, hehe. Berharap dapat lebih kuat setelah mengeluarkan tulisan, dapat mengobati hati yang sudah tidak berbentuk lagi (zzz, bahasa saya, haha). Selamat menikmati, selamat berbagi, karena selama saya masih diberikan kesempatan menulis, saya akan menulis. Semoga bermanfaat.
Selama saya menanti my "Lucky Irene", selama itu pula saya berusaha membuka kesempatan untuk mengenal sosok lelaki lain dalam hidup saya. Tujuannya untuk melupakan "Lucky Irene" itu juga, hehe. Memasuki tingkat tiga kuliah saya, saya pun tertarik dengan satu sosok yang lagi-lagi menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Dia pemimpin angkatan saya. Di mata saya, dia tidak memiliki kepemimpinan yang kuat, tapi memiliki relasi yang kuat. Dia yang terlihat murah senyum, polos, dan ternyata memang polos, soal perempuan juga (yang saya tahu), membuat saya merasa dia sosok yang menyenangkan. Banyak yang menyukai dia, saya pun, dan senang juga sempat berkirim-kiriman pesan konyol sama dia untuk beberapa waktu, hahaha. Meskipun pada akhirnya dia memilih untuk bersama perempuan tercantik di angkatan saya, sedih juga tapi hanya sejenak sudah bisa tersenyum lagi melihat mereka yang serasi, hehe.
Tak berselang lama sejak itu ospek pun mulai berjalan, dan lagi-lagi di saat itu saya diberi kesempatan dekat lagi dengan seorang lelaki, senior saya. Kami satu divisi. Dia jadi perhatian saya karena cuma dia satu-satunya anggota yang awalnya jarang sekali datang, tiba-tiba datang. Saya pun tertarik dengan sosok ini. Meskipun kelihatannya sosok yang suka bermain-main, apalagi dengan perempuan (mungkin ini, sepenilaian saya, hehe), tapi dibalik itu ada satu keyakinan yang terpancar kalau dia itu sebenarnya bukan tipe setengah hati dalam menjalin hubungan ataupun melakukan sesuatu. Saya ingat waktu itu, waktu kami sedang tugas, saya dan dia yang ada di barisan paling belakang, mendadak kabur berdua untuk istirahat sebentar, karena yang lain memang akan mengikuti kuliah yang tidak kami ambil berdua. Mata kuliah filsafat ilmu. Dimana saya sudah dapat nilai baik dan dia cukup. Saya lupa-lupa ingat dengan yang dia katakan soal nilai itu, yang menurut dia, adalah ukuran tingkat kewarasan, hahaha. Jadi katanya (seingat saya), kalau ada mahasiswa yang dapat nilai A=gila, B=agak gila, C=cukup gila, D=agak waras, E=waras. Hahaha, selalu tertawa terbahak-bahak kalau ingat ini. Berarti saya memang cenderung gila dari awal masuk kuliah. Pantas belum lulus juga, hahaha. Kembali, kembali. Saat saya berduaan mendinginkan diri kami dari panasnya hari itu, kami mulai bercerita, meskipun tidak terlalu banyak. Dia bercerita kalau selama ini dia tidak pernah lama menjalin hubungan dengan perempuan. Paling lama dia bertahan dalam suatu hubungan itu satu bulan. Bingung saya mengapa tiba-tiba dia cerita hal seperti itu ke saya yang baru dikenalnya. Sejak itu kami jadi lumayan dekat. Pada saat ospek hampir diselesaikan, saya dikejutkan oleh dia yang katanya menyatakan perasaan spesialnya pada seorang perempuan cantik di angkatan dia. Pantas tadi dia berdua saja satu mobil, ternyata itu maksud dan tujuan dia. Ditolak, itu yang saya dengar. Saya pun mencoba mendekatinya, respon sms dan telepon cukup baik, dan tahu apa pendapat dia tentang saya dari awal, satu kata, GILA! Hahahahaha. Sempat bersedih juga karena tidak lama setelah itu dia mengaku tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Saya sempat berharap kalau hubungan dia tidak akan lama (jahat memang, itulah ungkapan sayang saya ke dia, saya susah munafik, hehe), tapi ternyata dia bisa bertahan hingga lebih dari setahun (terakhir lihat friendster dia sudah 2 tahun yang lalu, seingat saya). Saya hanya dapat tersenyum dan berkata dalam hati, "Great Job PUP!" XD
Selalu merasa bagaikan CUPID, saya kesal juga. Sempat bertanya mengapa bukan saya yang dipilih oleh mereka. Salahkah saya yang selalu mendatangi lebih dulu? Ya, itu teori yang saya tahu, dimana kaum adam lebih senang mendatangi perempuan yang menantikan dia, dibanding sebaliknya. Saya baru menyadari teori ini sewaktu saya bertemu seseorang, yang akan saya ceritakan nanti, hehe. Tapi Tuhan memang baik, dia memberi saya kesempatan untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Dia lelaki biasa, mahasiswa Fisika, yang saya kira dapat menjadi seorang yang baik bagi hidup saya, namun ternyata tidak. Saya dengan dia kebetulan bertemu di angkutan umum (silahkan yang merasa geli, karena saya juga merasa lucu, hahaha) dan setelahnya kami berkenalan dan mengobrol banyak sekali di bus yang kami naiki selanjutnya. Hahaha. Setelah itu dia mulai mendekati saya, sms atau telepon, lalu mengajak saya jalan. Saat pertama kali jalan sama dia, saya merasa geli sendiri, karena teman dia berbuat iseng, yakni mengganti nomor PIN ATM yang dia bawa. Hahahaha. ATM yang mereka pakai bersama. Dia malu, saya terbahak-bahak (meskipun dalam hati, kasihan kalau depan orangnya, hahaha). Jadilah saya dengan dia, tapi tidak berselang lama. Di awal hubungan, dia sudah berbuat yang tidak saya sukai, yakni berusaha menyakinkan saya dengan cara yang salah. Dia bilang dia anak manja. Saya bilang, saya sebenarnya tidak suka anak manja, tapi saya masih dapat menghadapi kemanjaan tersebut. Dia bilang, saya bisa seminggu tidak memberi kabar, dan biasanya ini akan membuat pacar saya yang dahulu akan marah atau ngambek. Saya hanya bilang oh, karena untuk selanjutnya saya coba buktikan, dan hasilnya malah dia yang berprasangka buruk dan menuduh saya macam-macam. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat sikapnya yang tidak konsisten itu. Dia selalu mencoba buat saya cemburu dengan menceritakan kalau dia sedang didekati oleh seorang perempuan, sudah berciuman, lalu menunjukkan bekasnya. Awalnya saya cemburu namun kemudian saya hanya bisa tertawa dan muak, hahahaha. Saya bukan anak kecil bung, ingin saya katakan demikian. Saya bukan anak remaja yang labil. Saya punya pemikiran sendiri soal suatu hubungan, maka dari itu dari zaman sekolah dulu pun, saya tidak pernah ingin punya hubungan spesial dengan lelaki hanya untuk mendapat pengakuan oleh orang sekitar. Saya ingin memiliki hubungan yang sehat. Satu bulan sepuluh hari hubungan itu saya akhiri. Gomen kudasai.
Kemudian saya pun tidak ingin menjalin hubungan apapun setelah itu. Meskipun banyak yang datang, tapi saya berusaha menolaknya. Saya tidak berminat dengan perkenalan dunia maya atau yang hanya terlihat seperti ingin "menambah koleksi" saja. Saya kembali autis (hahahaha) setelah mengarungi samudera (hahaha, maaf menjelang tengah malam, otak mulai menggila) untuk belajar mengetahui sosok laki-laki yang berbeda-beda, saya pun sadar bahwa "Lucky Irene" tidak akan dapat saya lupakan, karena dia akan selalu jadi bagian dari hidup saya yang bernama : kenangan. Dan begitu juga untuk yang lainnya, yang saya ceritakan di atas, hehehe. Kalian memberi warna di hati saya, entah kalian tahu atau tidak, tapi terima kasih, hanya itu yang dapat terucap untuk kalian semua. Berharap saat bertemu lagi, kita semua telah menjadi orang yang lebih baik lahir dan batin, amin. God bless us d^^b

Kamis, 04 November 2010

Happy Wedding Roma dan Marlon, Saat Kurasa telah Kutemukan

Yuhuuu blogger, huwaaa sudah sebulan lebih ya saya tidak menulis di blogger ini. Padahal sudah terdaftar tiga bulan disini, hehe. Padahal rencana saya begitu banyak untuk menulis apa yang harus saya tulis, tapi apa daya begitu banyak kegiatan yang harus saya selesaikan terutama menjelang saat 17 Oktober 2010 kemarin, dimana kakak atau abang saya tercinta melangsungkan pernikahannya. Antara senang dan sedih juga, karena sikap saya ke abang harus sedikit berbeda karena sekarang dia sudah membangun rumah tangganya sendiri, meskipun banyak berkat dan doa kebahagiaan yang diberikan hari itu. Sebenarnya blogger, bulan Oktober kemarin merupakan bulan yang terberat bagi saya. Tuntutan dan hambatan begitu menerpa bertubi-tubi. Sekarang pun masih bisa kurasakan hal itu meskipun tidak sepenuh saat itu. Nantilah akan kuceritakan, karena salah satu yang membuat saya "jatuh" (hahaha, bahasanya) adalah romantika kehidupan (hahahaha, geli sendiri). Itulah hidup, jatuh bangun, seperti lagu Christina, hahaha.
Menjelang kelas tiga SMA, saatnya teror melanda. Biasa, guru-guru yang ingin anak didiknya lulus semua, jadi mendesak untuk lebih rajin lagi, lagi, dan lagi.  Bagi saya hmmm, tidak ada bedanya, belajar semampu dan sebisa saya saja, tidak usah dipaksakan, karena yang bisa saya berikan hanya usaha terbaik dari saya, hehe. Di saat akhir kelas dua, semester dua kemarin, saya memang sempat mendengar bahwa, ada dua orang anak laki-laki yang bertengkar hebat, yang kata guru saya karena seorang anak perempuan, hingga pada akhirnya mereka berdua dihukum harus berkeliling ke setiap kelas untuk meminta maaf. Saat itu saya tidak masuk sekolah karena sakit (alasan klise ini, hahaha, padahal benar). Saya pada dasarnya tidak terlalu tertarik berita seperti itu, tapi karena yang saya dengar pelakunya berasal dari kumpulan Rohani Kristen sekolah saya, hmmm, jadi berpikir juga, siapa ya mereka? Ternyata saya tahu salah satunya, Daniel, seorang yang memang dari awal muncul sudah terlihat seperti anak nakal, tidak heran, hehe. Kabar yang saya dengar semenjak perkelahian itu Daniel memutuskan untuk pindah sekolah (atau dikeluarkan dari sekolah, saya lupa). Sedangkan yang satu lagi masih jadi tanda tanya saya, hingga suatu hari lewat balkon kelas saya yang baru, di kelas tiga, teman saya memberitahukan bahwa anak itu, yang kemarin berkelahi. Saya pun mencoba mencermati lagi, melihat lagi, maklum mata rabun, hahahaha. Menurut penglihatan rabun saya, dia tidak terlihat seperti anak nakal atau semacamnya, malah terlihat seperti anak yang kesepian, hehehe, berasa kenal saja. Pancaran mata dia (haduh maaf bahasa saya berlebihan) itu menunjukkan sesuatu yang berbeda, yang tulus menurut saya (biasanya saya jarang memperhatikan orang jika pancarannya biasa saja, hehehe).
Entah mengapa ya, meskipun melihat dalam kondisi rabun, karena malas memakai kacamata, saya dapat menilai orang seperti ini. Sama seperti ketika kelas satu, ketika saya menilai teman sebangku saya, padahal saya baru kenal dia, tapi semua yang saya tuliskan tentang dia, kata ibunya, benar menunjukkan kepribadian teman saya itu, hehehe, jadi bangga. Kembali ke kisahku, kisahku, hehehe. Karena keterbatasan penglihatan saya tersebut dan kekuatan penasaran dengan pertanyaan, benarkah dia orangnya? Tanpa sadar setiap saya bersandar di balkon depan kelas, saya jadi melihat ke arah kelas dia, yang terletak di bawah dengan sudut 45 derajat, benar ini, haha. Saat Retret pun saya sepertinya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari dia, dia malah seperti selalu ada dimana saya berada, di mobil yang kami naiki bersama, di malam teduh bersama, padahal begitu banyak yang ikut dari kelas satu hingga kelas tiga. Lalu, setiap saya lewat depan kelas dia pun mata saya otomatis mencari dia, di kantin saat berpapasan pun, dan sepertinya dia pun tahu hal itu. Dia pun jadi rajin nongkrong di bangku depan kelas dia, melirik ke atas, ketika berpapasan pun, seperti udara di sekitar kami berbeda. Cukup lama kami seperti itu, sampai saya pun pernah melihatnya langsung saat saya, yang selalu telat ke sekolah, melewati kelasnya karena hujan, dan ternyata dia sedang melamun di jendela. Hahaha, wajahnya itu, khas anak lelaki, hehehe. Saat Retret terakhir saya kelas tiga, dimana kelas dua yang jadi panitianya, kami pun mengalami suatu kejadian unik. Malam itu, kelompok saya diantar oleh dia sebagai penunjuk jalan kami, saya senang, hehe. Lalu malamnya saya memutuskan menemani teman saya yang ternyata kebagian tidur sendiri di bawah. Pagi-pagi sekali saya kembali kekamar saya, tanpa sengaja saya dan dia datang dari arah berlawanan dan akan berpapasan, bila reflek saya tidak baik sebenarnya akan bertabrakan, karena jalannya sempit, hanya untuk satu orang, sayangnya, hiks, tabrakan tidak terjadi. Saya sempat melirik dia kelihatan heran saya bisa menghindar seperti itu, padahal saya terlihat sangat mengantuk, memang mengantuk, hiks, coba tabrakan ya. 
Sampai ada di suatu kesempatan saya berpikir, benarkah dia melihat ke arah saya? Pernah suatu ketika, saya lewat bersama seorang teman saya, yang tahu cerita ini juga, mencoba mengecek apa benar selama ini dia melihat ke arah saya atau tidak. Maka kami berdua pun melewati kelas dia, di saat dia sedang duduk membelakangi jalan yang kami lalui. Berselang berapa lama setelah kami lewat, teman saya itu menengok ke belakang, dan ternyata dia sedang melihat ke arah saya, hahaha, senangnya. Dia pun sering juga pulang hingga sore hari, padahal kelas dua sudah pulang dari siang, jadi saya pun yang pulang sore karena mengikuti les tambahan senang sekali dapat melihat dia ada di situ, duduk seperti menunggu saya. Saya pun merasa ada hal lain disini, saya yang penasaran akhirnya iseng mencari nomor telepon selularnya di salah satu teman saya. Awalnya benar untuk iseng saja, seperti dahulu saya juga sering iseng kepada para lelaki, maafkan saya ya, hehe. Tapi respon dia baik, saya jadi senang saja, hehe. Dari sejak itu sms kami pun, hmmm terbilang cukup lancar, hehehe, sampai teman-temannya mengetahuinya dan mulai mengecengi dia saat ada saya di sekitar dia. Saya yang benar-benar masih cupu soal seperti itu, menanggapinya tanpa respon yang baik alias cool saja gitu, hehehe (menyesal juga). Tapi di balik itu semua saya selalu memperhatikan dia. Dia juga pernah melewati kelas saya, dan kata teman saya dia smepat melongok ke dalam, sayangnya saya sedang berdiskusi soal sama teman belakang tempat duduk saya, hahaha. Saat les pun, dia yang seperti menunggu saya, suka mengintip lewat jendela, melongok ke dalam kelas dimana saya les, hehehe.
Mengingat itu semua sekarang terasa lucu dan menyenangkan meskipun ada rasa sakit yang tertinggal. Saya yang memang kurang bisa berkomunikasi dengan baik, lagi-lagi harus mengalami kepahitan. Saya dengan dia memang pernah berbicara, walaupun hanya sebatas komentar situasi saat kegiatan keagamaan, selebihnya tidak ada, hingga saya harus meninggalkan sekolah karena telah lulus. Suatu kali saat kegiatan RoKris dimulai, saya melihat dia lemas sekali, sedih sekali, tidak bertenaga, sampai dipukul pun sama guru agama saya dengan maksud memberi semangat, malah dia tambah lesu. Dia selalu hadir di sekolah hingga saya lulus. Dan sampai saat itu juga dia dan saya tidak pernah bicara dari hati ke hati, tepatnya sampai saat ini. Saya yang mengira dengan berbeda tempat kami, saya dapat melupakan dia, ternyata saya salah. Saya semakin memikirkan dia, semakin menyadari kalau saya ternyata suka dengan dia, tapi saya selalu berusaha menganggap semuanya hanya kenangan. Sampai saat saya ikut UNPAD Goes to School tahun 2007, dimana kita mahasiswa baru berkunjung ke sekolah-sekolah daerah asal kita saat liburan. Saya pun mengikutinya. Kami diwajibkan mempresentasikan UNPAD kepada mereka, siswa dan siswi yang ada di situ. Saya sudah memilih kelas Ilmu Pengetahuan Alam, karena saya sudah kenal beberapa dan berasal dari kelas yang sama, hehehe. Tapi tiba-tiba ada kejadian yang membuat saya merasa terpojok. Secara mendadak saya yang saat itu sedang mencari partner saya dalam kelas IPA, didorong masuk ke kelas Ilmu Pengetahuan Sosial, kelas dia. Hal yang sebenarnya saat itu paling saya hindari. Saya pun jadi diam seribu bahasa, tidak tahu harus berbicara apa. Apalagi ternyata ada anak perempuan yang cantik yang jadi primadona anak lelaki di situ, menjawab pertanyaan dari teman saya. Yah, anak perempuan yang selanjutnya berpacaran dengan dia.
Huuufffhhh, ini hal ini yang paling membuat saya sakit, setelah acara dari kampus saya itu, saya berusaha mengutarakan rasa yang masih terismpan baik di hati. Tingkat keberanian saya pun hanya lewat telepon. Hanya sebatas itu. Dan saya tidak meminta jawaban apapun. Egois memang, mungkin itu juga yang membuat dia merasa tidak dihargai sebagai manusia seutuhnya. Maafkan saya. Saat mengetahui dia sudah berpacaran dengan anak perempuan itu, hati saya benar-benar hancur. Dua tahun yang saya lewati dengan mengingat dia ternyata hanya sebatas itu hasil yang diterima. Saya pun berusaha dan terus berusaha menghadapi perasaan saya sendiri, setelah saya memastikan bahwa memang dia telah resmi berpacaran, saya berusaha memulihkan hati ini, bertahan. Meskipun hingga dua tahun setelahnya, saya masih belum dapat melupakan dia. Karena setahun setelahnya, saya menemukan dia di facebook, dia telah berstatus single. Saya sempat merasa senang karena mungkin saat ini kesempatan baru datang. Tapi ternyata, meskipun mereka telah mengakhiri hubungan, mereka masih belum dapat melepas perasaan satu sama lain. Lebih sakit hati lagi saya melihat kemesraan dia di facebook, hahaha. Saya pun berusaha berpikir positif, ikhlas, menerima dia yang saat itu terlihat dapat lebih bahagia bersama yang lain. Saya pun berusaha memulihkan dia lewat sms setiap hari, saat itu sebulan sebelum paskah, saat kami umat Nasrani berpuasa dan berpantang, memberikan firman-firman yang sekiranya dapat menguatkan.
Saya pun sempat berhenti di satu titik, mencoba membuka hati kepada yang lain, namun ternyata hanya sebentar, karena yang teringat oleh saya hanya dia. Saya pun akhirnya sadar, bahwa saya memang tidak memberikan sebanyak yang diberikan anak perempuan itu kepada dia, waktu, kenangan, tempat, saya tidak punya itu untuk dia. Karena ternyata anak perempuan yang sempat berpacaran dengan dia itu adalah anak perempuan yang dahulu diributkan oleh dia dan Daniel (cinta lama bersemi kembali). Boleh dibilang, kesempatan yang Tuhan berikan sudah saya lewatkan, masa saya sudah lewat. Ini jadi kesimpulan saya saat itu, karena anehnya, meskipun kami tinggal tidak berjauhan, saya tidak pernah bertemu lagi dengan dia, sudah lima tahun berlalu sampai sekarang. Saya tahu alamat rumahnya, karena perbuatan istimewa terakhir saya ke dia adalah, memberikan coklat dan buku sebagai hadiah ulang tahunnya dan hadiah valentine awal tahun ini. Tapi saya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk datang kepada dia, karena sikap saya yang kurang menyenangkan dahulu membuat saya malu untuk bertemu dia. Sebenarnya saya ingin sekali bertemu, saya ingin menghabiskan sehari saja dengan dia, saya ingin dia tahu rasa yang pernah saya simpan dengan baik untuk dia, saya ingin dia tahu saya menantikan dia, saya ingin berbicara dengan dia, tapi sepertinya tidak ada lagi kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya. Ampuni saya Tuhan, saya tahu ini akibat dari keegoisan saya yang tidak menghargai perasaan orang lain kepada saya.
Pada usia saya yang ke-22, saya pun memutuskan untuk melepas rasa ini, benar-benar menjadikannya hanya sebagai kenangan, karena saya bukan orang yang tepat untuk membahagiakan dia. Dia terlihat lebih bahagia dengan yang lain. Saya pun hanya dapat berdoa agar dia bahagia, entah dengan anak perempuan itu, yang sekarang sepertinya telah memiliki pasangan, atau dengan Oya, perempuan yang terlihat dekat dengannya saat ini di facebook, sms, atau telepon, hehe. Sekarang, jika saya bertemu dengan dia, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena telah memberikan rasa ini, mendapat sesuatu yang istimewa, sehingga saya dapat dengan semangat melewati semuanya dengan berkata, "Lucky Irene!" XD

Rabu, 22 September 2010

Saat Mulai Kutemukan

Heeeyaaa hey ya ha! Di saat senggang ini sembari menunggu waktunya mandi. Loh kok malam? Yah tadi saya baru melaksanakan pembersihan wajah besar-besaran di London Beauty Center hehehehe. Perih wajah ini sayang sungguh perih sekali huohuo (malah nyanyi, gila emang hahahaha). Wah kok jadi terbawa mellow ya mendengar lagu Thalita Latief feat Konig, "tapi itu tak mungkin, semua berubah", huuufffhhh jadi teringat sesuatu. Hush hush pergilah pikiran negatif itu! Kembali pada kisahku. Selepas tamat Sekolah Menengah Pertama, saya mulai sibuk memasukkan pendaftaran ke Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Ya di Jakarta, karena menurut orang saat itu jika sekolahnya didaerah Jakarta akan lebih mudah mencari kerja dikemudian hari. Kata tante saya yang cerewet dan jorok itu. Akhirnyalah saya mencoba mendaftar dengan persaingan yang sangat ketat (karena beda tolak ukur jika berasal dari Sekolah Menengah Pertama selain Jakarta). Malangnya saya kalah saing. Dengan berat hati saya pun menuruti kata bapak saya yang menyarankan masuk Sekolah Menengah Atas dekat rumah. Saya sebenarnya sangat tidak berminat sekolah di situ.karena setiap sore saya melihat anak-anak sekolah itu sering nongkrong di warung kecil pinggir jalan sambil merokok dan mengganggu pemandanganlah pokoknya. Terkadang benar kata orang, suatu saat apa tidak kita sukai akan kita alami suatu saat. Begitulah kira-kira yang saya rasakan saat itu.
Awal masuk sekolah saya sangat merasa tidak suka. Tapi tetap saya coba jalani. Di situasi yang serba terpaksa itu (menurut saya hehehe), saya menemukan kembali sosok terkenal yang menggugah hati. Hehehehe. Ya dia adalah Erick. Seorang senior kelas tiga yang multi-talented (menurut saya lagi hehehe). Bagaimana tidak hampir setiap ekstrakulikuler yang ditampilkan saat Masa Orientasi Siswa dipertunjukkan oleh dia dan kakak-kakak yang lain.Senyumnya yang mempesona setiap siswi baru membuat dia memang banyak disukai oleh mereka. Saya yang termasuk cupu alias culun punya saat itu otomatis tidak berani mendekati dia yang memang terlihat hanya suka dengan wanita berkulit cerah. Yayayaya jadilah saya seorang siswi yang berorientasi belajar saja. Hehehehe. Sempat saya berkenalan dengan senior bernama Cahyo, namun sepertinya dia lebih tertarik kepada Anggi, teman saya. Namun beda di sekolah, beda di luar sekolah. Ada seorang bernama Ndin yang datang ke kehidupan saya. Saya juga masih bingung darimana dia mendapatkan nomor handphone saya. Hari-hari saya pun di isi oleh Ndin mulai dari telepon, sms, sampai telepon rumah (masih laku dulu telepon rumah, pulsa mahal soalnya hehehehe). Saat merasa klop, saat itu menularlah kenal-kenalan itu ke temannya Damar. Namun pada akhirnya saya yang kurang percaya diri untuk bertemu dengan mereka berdua malah dibohongi oleh teman dekat saya sendiri, Yenny, orang yang saya ceritakan dengan komplit kedekatan kami dan akhirnya jadian dengan keduanya secara bergantian. Huuufffhhh dasar perempuan remaja, tidak bisa melihat lelaki remaja ganteng atau tajir sedikit, langsung disambar! Saya yang saat itu sadar dibohongi jadi menjauh. Lagi-lagi Tuhan tidak mengizinkan saya untuk berikatan dengan siapapun. Thanks God! Hahaha.
Menjelang kelas dua saya, yang selalu menjadi seorang bendahara kelas (ya dari kelas satu sampai kelas tiga, wajah jujur kata teman saya hahaha), merupakan peminjam dana untuk pertandingan basket sekolah. Biasalah anak-anak malas melewati birokrasi sekolah yang rumit juga. Jadilah saya mendapatkan nomor Erick kakak kelas saya dulu. Memang dia sudah lulus, namun entah mengapa saya yang saat itu sudah memiliki handphone masih ingin menghubunginya. Awalnya hanya iseng missedcall lalu berlanjut menjadi sms-sms. Ternyata dia pun masih penasaran dengan saya. Hehehehe. Saking penasarannya dia sampai datang ke rumah loh hehehe. Dia pun jadi sering datang ke sekolah kami sebagai pelatih basket anak perempuan. Sebenarnya saya ingin masuk basket namun mengingat penyakit saya yang dari dulu termasuk penyakit berat yakni, Malaria, Thypus, dan Asma, saya yang dari Sekolah Menengah Pertama telah ditawari masuk klub basket, selalu menghindar. Menyesal juga tapi demi kesehatan saya pun ikhlas. Kembali ke Erick. Semenjak dia melatih kami jadi sering bertemu. Namun saya yang sangat cupu bila bertemu orang yang saya sukai, saya hanya diam seribu bahasa.  Bibir ini kelu tak mau bergerak sama sekali. Padahal di kesempatan itu hanya ada kami berdua duduk bersama di satu bangku panjang. Haaa hanya bisa senyum kecil saja. Bodoh memang, padahal dia sudah rajin datang ke sekolah, huwaaa mengapa lewat sms mudah tapi saat bertemu susah untuk berbicara? Hiks hiks hiks. Lambat laun dia mulai tidak kelihatan melatih lagi. Huhuhu. Saya suka dia saat itu benar-benar suka. Namun itu semua salah saya yang tidak tahu bagaimana berbahasa lisan dengan baik. Ternyata saya memang lebih suka menulis hehehe. Tapi Erick kembali hadir saat kami sudah lulus dan dia sempat bertanya kemana saya akan kuliah. Ya saya jawab saja ke Bandung karena dapat SPMB hehehe. Saat itu saya dapat berkata dengan ringannya karena memang sudah ada yang mengisi hati saya.

Kamis, 16 September 2010

Saat Kembali

Hahay kali ini sambil makan siang menjelang sore di Bekasi Square (nama gahulnya BesQi Park, sesuai tulisan yang terpampang --"). Bersama adik saya (lagi-lagi hehehehe), Bonibo (marah orangnya kalau ketahuan saya menulis namanya begini haha), sambil memakan nasi uduk buatan Matu (ngebotram dari rumah) yang lazis tiada tara, saya ingin kembali menulis blog di area free Wi-Fi ini (maaf ya modal terbatas hahahaha). Inilah cobaan, selalu datang di saat yang tepat. Bagaimana tidak saking lezatnya nasi uduk ini saya hampir lupa untuk menakar saat memakannya. Padahal saya sedang dalam program sehat pengurangan berat badan alias perut yang membuncit hehehehehe. Untungnya selalu ada bisikan dari hati yang mengingatkan. Akhirnya saat ini perut saya sudah mengalami penurunan pembuncitan. Kalau sekiranya ada yang tahu bagaimana bisa mengurangi bentuk buncit dengan cara aman, tepat, dan sehat tolong beritahu saya secepatnya. Hahahaha.
Kembali kepada topik yang sebenarnya. Apalagi kalau bukan tentang kisah kasihku hihiy! Tuhan memang sungguh baik, di saat saya sedang merasakan lagi penolakan cinta (cieee bahasanya!), Bapak saya mulai mengirim permohonan untung pindah lagi ke Pulau Jawa. Sebenarnya bukan karena kebetulan, tapi saat saya kelas enam Sekolah Dasar, suasana tetangga temapat kami tinggal yakni, Timor-Timur sedang kacau balau. Seperti yang diketahui bahwa saat sekitar tahun 1998-1999 Indonesia sedang dalam masa krisis. Mulai dari krisis moneter hingga krisis kepercayaan. Semua kebusukan seakan keluar saat itu. Saat itupun masyarakat Timor-Timur menyatakan ingin berpisah dengan Indonesia. Konflik yang terjadi tidak terbantahkan. Ribuan korban berjatuhan. Maka dari itu, keluarga saya memutuskan untuk pindah secepatnya. Akhirnya kami pun pindah. Berada di rumah kami sendiri dengan Bapak yang harus bolak-balik ke Purwakarta tempatnya bekerja. Memang rasanya tidak enak melihat hanya Bapak yang harus melakukan perjalanan jauh demi kami tapi itulah hidup, demi kami juga. Sayapun melanjutkan cawu terakhir saya di Sekolah Dasar terdekat. Sempat tinggal dengan Tanteku yang super cerewet dan jorok, akupun tidak tahan. Saat aku duduk di Sekolah Menengah Pertama saat itulah saya baru mengenal kehidupan. Bagaimana rasanya menjadi orang yang terkucilkan, yang hanya dimanfaatkan (sering jadi tempat mencontek jikalau PR ada - bukan sombong tapi emang kenyataan hehehe). Orang-orang selalu bilang masa remaja adalah masa yang paling indah. Saat itu saya sama sekali tidak merasakannya. Ini masa pembelajaran buat saya. Berusaha mengeluarkan diri dari kekolotan orang tua, berontak pun jadi cara terakhir. Puji Tuhan itu berhasil membuat mereka mengerti. Lah kok jadi cerita tentang keluarga ya? Tidak masalahlah karena cintapun ada dalam keluarga hehehe. 
Saat saya duduk dikelas satu saya memiliki rasa suka kepada salah satu senior saya. Bambang namanya. Hahahaha kalau mendengar nama ini sekarang saya suka tidak tahan untuk mengejeknya dengan logat Jawa! Dia siswa populer disekolah kami. Prestasinya di ekstrakulikuler Paskibra (saat itu ekskul ini yang paling baik disekolah saya) telah melambungkan namanya (lebayatun.com). Saat itu saya hanya bisa melihat dari kejauhan saja meskipun saya tahu dia masih belum memiliki pasangan.Saya masih trauma sepertinya. Saya yang saat itu benar-benar menutup pintu hati kepada siapapun. Namun saat duduk dikelas dua Sekolah Menengah Pertama ini saya kembali digetarkan oleh rasa. Halaaah hahaha. Saat saya kelas dua, kami sekeluarga pindah rumah, tidak terlalu jauh, masih di daerah yang sama. Di lingkungan baru tersebut saya mencoba membuka diri kembali dengan bergaul bersama anak-anak sekitar. Maklum ditempat yang lama saya malas keluar, ibu-ibu gosip sepanjang jalan. Jadilah saya kenal dengan seorang yang bernama Kiki-Abang. Mereka ini kembar tinggal dibagian belakang komplek rumah. Awalnya yang saya tahu bukan dia tapi Rizka (kalau ga salah ingat nama ini), teman saya les dulu. Dari dialah saya mulai keluar main. Orangnya cantik, jadi anak-anak lelaki yang termasuk abang saya juga mau minta dikenalin sama Rizka ini. Jadilah kami sering keluar. Entah itu nonton futsalnya mereka atau juga sekedar bersepeda bersama. Saya suka dengan Kiki saat itu, seseorang yang namanya sama persis dengan burung parkit peliharaan. Pernah ada kejadian lucu, saat emak saya sedang memberi makan parkit kiki sambil memanggil namanya, Kiki-Abang yang menyahut. Huahahahahaha. Walaupun ada pengakuan Rizka yang membuat saya shocked, kata dia, Kiki pernah mencoba mendekatinya, tak menjadi masalah. Kami suka makan Choki-choki bersama hehehe. Saya pun suka melambaikan tangan saya saat melewati sekolahnya yang sangat dekat dengan komplek rumah kami. Alhasil banyak teman sekolahnya yang mengecengi dia dengan saya. Pernah suatu kali dia tiba-tiba ikut serta naik angkutan umum yang saya naiki. Saya bingung, heran, dan grogi berat! Malunya saya, saking groginya kuah sayur kangkung yang saya bawa saat itu untuk praktik entah pelajaran apa tumpah. Dan dia mengatakannya didalam angkutan umum tersebut hehehehe. Tapi meskipun malu saya merasa senang sekali soalnya seperti diantar ke sekolah sama dia hehehehe. Berarti dia ada rasa suka juga dong (percaya diri 95%). Namun yang menjadi masalah disini temannya yakni Opik katanya juga suka sama saya. Wew dilema dong hahaha. Opik juga teman main kami, dia dan Urfan selalu datang kerumah mengajak saya dan abang saya bermain hehehe. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa antara Kiki dan Opik mulai ada jarak. Saat saya tanya kenapa, Kiki malah bilang (benar-benar bernada), "Bilang sama dia kalau masih mau main bareng jangan kayak begitu dong caranya!". Saya pun mulai berpikir, apa ini karena saya? Memang semenjak main sama saya Opik jadi jarang banget main sama Kiki-Abang. Yah demi persahabatan mereka yang lebih dulu ada, saya pun mulai menjauh. Biarlah kehilangan seseorang yang disukai, karena dengan utuhnya persahabatan mereka saya pun bisa melihat senyum di wajah Kiki. Sempat sakit saya karena harus berbuat begitu. Tapi sekali lagi Tuhan memegang tanganku erat hehehe.
Memasuki kelas tiga, saya pun masih punya kisah kasih lain. Kali ini seorang yang bersama dalam satu kelas dari kelas satu sampai kelas tiga. Jimmy namanya. Mengapa dari kelas satu? Dulu saya juga tidak menyadarinya. Saat saya melewati mushola, teman sekelas saya yang bernama Hafiz berteriak ke arah saya dengan menyebut Jimmy! Jimmy! sampai berulang kali. Saya pikir mana Jimmy? Saya sendiri yang lewat jalan ini kok. Namun akhirnya saya sadar. Pada saat kami duduk dikelas tiga ini. Saya pikir yah manalah dia masih suka sama saya sudah lama sekali itu. Hehehe. Tapi ternyata masih ada rasa itu! Hahahaha. Soalnya tiba-tiba suatu hari ada yang melempar buku ke meja saya dari jendela. Saya pikir buku siapa, pas dibaca ternyata buku Jimmy. Bingung kan saya kenapa dilempar ke meja saya? Tidak lama setelah itu Jimmy dengan wajahnya yang selalu baik datang malu-malu mengambil bukunya. Yah tentunya dengan backing vocal "Ciiieee..." sebagai pemanis. Hahahaha. Lucu juga kami pernah bertatap mata saat secara tidak sengaja bertemu dijalan pas pulang dari buka puasa bersama disekolah tersebut. Kembalilah si ciiieee dikumandangkan oleh teman-teman disekitar saya. Hahahaha. Manis memang saat itu. Tapi hanya sebatas itu saja hehehe. Baru bulan kemarin tiba-tiba Jimmy mengirim pesan ke Inbox FB saya. Sudah sejak lama saya tahu Jimmy sudah menjadi teman gereja Riris namun saya hanya diam saja hehehe. Akhirnya kami sekarang berteman di FB. Dia sekarang sudah bekerja di MetroTV. Keren juga ya. Hehehe. Tapi sayangnya dia tidak datang saat buka puasa bersama kelas kami di Sekolah Menengah Pertama dulu. Tak apalah meskipun pesan di Inbox FB tidak berjalan lagi tapi saya merasa senang dapat bertemu dengan dia lagi yang ternyata masih belum berpasangan juga. Hihihi apa hubungannya? Semoga suatu saat bisa bertemu. Amin. Bukan buat pendekatan hanya ingin bernostalgia saja sembari berbagi pengalaman. Hehehehe.

Jumat, 10 September 2010

Happy Eid Mubarak, Saat Kujauh

Haloha bloggers! Lama sekali tidak menyentuh netbook saya ini. Semenjak modem dibawa bapak ke Nabire, hilanglah akses ke dunia maya (lebay.com hahaha). Sambil nongkrong di J.Co Pondok Gede, ditemani segelas Americano dan Glazzy Donut dengan Bonibo, adik tercinta hehehe, saya mencoba mengukir kilas balik lagi. Padahal sekarang sedang berusaha mengumpulkan puzzle hati yang sedang berserakan. Halah hahaha. Hmmm dimulai darimana ya? Jadi bingung saya. Saat itu saya sudah ada di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kota (bisa disebut begitulah - karena pada zaman itu dia sudah tergolong maju dibanding yang lain). Di tempat ini, tempat yang hanya memerlukan dua jam perjalanan ke Dili, Timor-Timur, yang sekarang berpisah dengan Indonesia - hiks hiks, saya mengenal banyak kegiatan baru yang berhubungan dengan alam (baca: beternak ayam, sapi, babi, lalu bercocok tanam berbagai jenis sayuran, jagung, tomat, kacang hijau sampai singkong hehe). Di sini pulalah saya bertemu dengan seseorang yang lagi-lagi merupakan teman main pada awalnya.
Saat itu saya masih duduk di kelas lima atau enam Sekolah Dasar (lagi-lagi lupa hahaha). Inisialnya Rey (itu nama Irene, nama, zzzz), kalau tidak salah ingat itu juga. Hahahaha. Dia adalah seorang anak dari pegawai atau anak buah dari bapak saya di kantornya. Kami sering bermain bersama karena kebetulan rumah kami tidak begitu jauh. Dan aku pun mengenalnya lewat anak teman ayahku bernama Mo'i, begitulah saya memanggilnya. Bersama dengan temannya seorang lagi, kami berempat sering bermain bersama. Apalagi disekitar kantor bapakku. Hehehe. Selain sering bermain bersama, kami juga sering liburan bersama keluargaku. Akupun merasakan getar-getar yang berbeda begitu sama dia. Tapi trauma masa lalu masih menghantui, hingga pada akhirnya aku tidak berbuat apa-apa. Yah, lagi pula dia pun sepertinya menaruh hati kepada Mo'i, bukan kepadaku. Hal ini terlihat dari matanya, dan dari cara dia memperhatikan Mo'i, serta perhatianku yang tidak digubrisnya. Hiks. Mungkin Mo'i bercerita soal kelakuan jahatku ke dia. Maafkan saya Mo'i, saya memang seorang anak yang manja dan egois sekali saat itu, meskipun sudah memiliki adik. Huuufffhhh. Aku hanya bisa bersedih tatkala aku harus berpindah kembali ke Pulau Jawa. Yah yah sekali lagi kisah yang tak tersampaikan. Harus tetap kuatkan hati dan bersyukur telah mendapatkan rasa itu. Rasa yang teristimewa. Hahay!

Selasa, 31 Agustus 2010

New Month, Saat Kuberanjak

Wah wah sudah sebelas hari kutinggalkan blog ini. Hehehe. Sekarang sudah bulan september, sebentar lagi lebaran, orang sibuk belanja, sibuk mencari hal yang baru. Saya pikir sayapun begitu. Mencari hal yang baru. Hahay. Inilah babak selanjutnya. Hehehe. But for your information first, manusia yang saya cari kemarin saat buka puasa bersama ternyata tidak datang. Mungkin sudah ada firasat tidak enak sebelum dia pergi. Hihihi. Biarkanlah itu jadi cerita saja. Hehehehe. Sekarang kisah cinta yang sesungguhnya memilukan baru dimulai. Hahaha tidak seseram itu kok, saya cuma berlebihan. Hehehe.
Memasuki kelas tiga Sekolah Dasar (dimana sisi feminin sudah terlihat - menurut emak saya), saya sepertinya terlalu dini untuk mengatakan bahwa saya jatuh cinta. Mungkin cinta-cintaan saja. Hehehe. Dulu, saya sering sekali main ke tempat teman saya, satu komplek beda blok, lumayan jauh tapi hobi berkelana saya membuatnya jadi bukan masalah. Dia berinisial Deo (loh itu nama ya? hahaha), tetangga teman sekaligus saudara saya yang bernama Riris. Sedari kecil, kata emak saya, saya emang paling suka melihat sosok lelaki bening, bersih. Teman-teman abang saya pun dari dulu suka saya seleksi mana yang boleh bermain dengan abang saya mana yang tidak, dilihat dari fisiknya. Haduh jahatnya, pasti anda berpikir begitu. Hahaha. Saya juga tidak mengerti mengapa, mungkin karena waktu kecil saya dikelilingi oleh om-om, tante-tante (baca: saudara-saudara emak dan bapak yang belum menikah) yang mereka selalu membicarakan bagaimana saya harus mencari sosok lelaki yang dianggap lebih oleh mereka. Alhasil berdampak juga sampai kuberanjak remaja. Huuufffhhh. Back, back. Deo adalah sosok yang sangat saya suka saat itu. Meskipun Riris mengatakan kalau dia kemayu, tapi menurut saya tidak. Beberapa kali saya dan Riris bermain bersama dia. Menyenangkan sekali. Boncengan sepeda bareng, main petak umpet bareng, main tak jongkok bareng, dan masih banyak lagi. Hahahaha. Dia pun terlihat sangat senang bermain bersama saya. Sampai semuanya mulai berubah saat saya memberikan surat cinta sama dia. Huwahahahaha terbuka sudah. Terserah anda menganggap ini buka aib atau apalah itu, buat saya ini kisah yang tak terlupakan, meskipun mengenaskan. Hiks. Surat itu saya titipkan ke Riris, dengan penuh semangat karena menulisnya sampai satu atau dua lembar (saya lupa pastinya) semalaman, dan berharap akan ada balasan darinya. Namun naas, berita balasan yang saya dapat dari Riris. Sesaat dia menerima surat itu, dia langsung merobeknya ditempat dan membuangnya tanpa dibaca. Hati saya terluka, sangat, dan sesudah itu saya pun tidak mau bermain sama dia atau kerumah Riris lagi. Untungnya Tuhan yang begitu baik memutuskan bahwa saya dan keluarga harus pindah ke Nusa Tenggara Timur saat kelas tiga cawu ketiga (masih main caturwulan zaman saya hehehe), Atambua tepatnya, perbatasan Timor-timur dengan Indonesia saat ini. Perpindahan itu juga sebenarnya karena saya, yang belum bisa pisah sama bapak, yang sakit dengan penyakit yang tidak bisa didiagnosa oleh dokter, hahahaha. Dengan langkah mantap keluarga saya pun pindah ke Nusa Tenggara Timur. Hehehe. Bye Deo!

Jumat, 20 Agustus 2010

Saat Kukecil

Jumpa lagi! Hehe. Awalnya buat blog ingin ditulis tiap hari tapi kondisi selalu tidak memungkinkan. Namun hari ini setelah 17 hari didiamkan akhirnya matang juga (Loh? Apa coba? Hehehe). Di hari ini sepanjang perjalanan pulang ke rumah tadi saya teringat kembali ke masa lalu kehidupan cinta saya. Hahaha inilah niat saya membuat blog pada awalnya, mengungkapkan kehidupan cinta kasih sayang saya. Jadi yang kurang suka kisah dramatis harap tinggalkan blog ini. Hihihi. Mari mulai. Saya seorang gadis imut, lucu, dan keren yang lahir di Jakarta (Yang mual silahkan muntah dulu). Saya yang dibesarkan dengan seorang abang, maklum jarak saya dengan adik enam tahun, saya lebih banyak bermain sama teman-teman abang saya. Melihat pembawaan yang tomboi, emak (aslinya manggil mama) saya berinisiatif mengikutkan saya les tari dari zaman Taman Kanak-kanak. Alhasil berkuranglah sifat kelaki-lakian tersebut. Masuk Sekolah Dasar, jiwa perempuan saya semakin ada dengan mengenal banyak anak perempuan di komplek. Mainlah yang namanya masak-masakan, sekolah-sekolahan, dan gambar-gambaran. Inginnya sih main blackberry-blackberryan kayak anak-anak kecil sekarang, tetapi apa daya beda zaman, hiks. 
Kembali ke topik, kisah cinta yang lucu yang pernah saya alami sewaktu di Sekolah Dasar yakni saat saya dan salah satu teman saya sedang jajan. Saya yang sedang bingung memilih mau jajan apa tiba-tiba dipanggil seseorang. Reflek, saya nengok, dan tiba-tiba CUP! Pipi saya basah, mata saya melotot, kaki saya kaku, sembari melihat pelaku kriminalitas pelecehan dibawah umur, tertawa bahagia ke arah saya. Saya yang dasarnya emang bukan anak kecil yang manis dan akan tersipu malu jika diperlakukan seperti itu hanya melengos pergi dengan hati yang dongkol. Tinggal pelaku tersebut melongo bak sapi-sapian ompong. Hahahahaha. Sempat saya melihat ke wajahnya dan ternyata sampai sekarang saya tidak bisa lupa wajah itu. Apalagi saat duduk di Sekolah Menengah Atas, saya sepertinya bertemu lagi dengan wajah itu. Belum saya pastikan sih apa benar itu dia, belum ditanya langsung hehehe. Mungkin hari minggu ini saat buka bersama, dia akan datang, akan kucoba tanyakan. Hehehehe. Sampai disini dulu. Tunggu babak selanjutnya! Hahahaha. God bless you.