Jumat, 14 September 2012

Lucky Fingers

Setelah kuselesaikan konsep pembicaraanku itu, aku pikir aku tinggal mempersiapkan mental untuk mengatakannya, tanpa harus merasakan kehadirannya lagi dalam mimpiku. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Selang beberapa hari setelah aku membuat konsep pembicaraan itu, minggu lalu, di saat aku benar-benar sedang merasakan kesedihan, penyesalan dalam hidupku, di satu malam aku bermimpi lagi dengan dia ada di sana. Mimpi keenam.
Matahari masih menyinari bumi, tapi aku tidak mampu bersinar seperti matahari hari itu. Aku merasakan kesedihan mendalam sampai-sampai seorang temanku menemaniku pulang. Aku tidak ingat darimana aku saat itu. Sepertinya aku baru menghadiri pertemuan rohani. Bersama-sama aku dan temanku itu naik angkutan umum carry berwarna merah. Kami duduk di bangku panjang bermuatan enam orang, tepat di tengah-tengah. Kuingat, temanku itu berusaha menghiburku, menguatkanku. Dia seorang perempuan, duduk di sebelah kiriku, berkacamata, bermuka bulat, berisi badannya, lucu parasnya. Tapi aku duduk sedikit memunggunginya, menatap lurus, sesekali tertunduk. Angkutan umum ini berjalan pelan, sampai aku dapat melihat dengan jelas bahwa di depan ada Lucky yang sedang bertanya kepada seorang lelaki yang sepertinya mengenalku, salah satu temanku, mengenai diriku. Entah mengapa aku seperti mengerti arah pembicaraan mereka. Lucky bertanya kepada lelaki di sebelah kirinya itu, yang penampilannya kurang lebih sama seperti teman perempuanku ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku. Lelaki itu menjawab bahwa dia tidak tahu mengapa, tapi yang jelas, dia seperti mengatakan bahwa aku butuh kekuatan.
Kemudian Lucky menanyakan keberadaanku dimana kepada lelaki itu. Dia pun menjawab, tadi melihatku telah naik angkutan umum bersama temanku. Di saat bersamaan, angkutan umum yang kami naiki pelan-pelan mencapai mereka, bahkan akan melewati mereka. Jika tidak segera lelaki itu menyuruh Lucky untuk segera naik, maka angkutan umum yang kami naiki akan benar-benar melewati mereka. Lucky yang naik tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut, langsung duduk di bangku tempel berkapasitas dua orang dekat pintu keluar. Karena di sebelah kananku ada dua sosok yang lain. Aku berusaha memalingkan wajahku apalagi mataku dari melihatnya. Aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku didepannya. Tapi aku tetap ingin melihatnya. Ada yang berbeda dengannya. Pakaiannya kemeja kotak-kotak, bercelana bahan, dan sepertinya membawa payung panjang. Semakin aku berusaha tidak menyadari kehadirannya, semakin dia memperhatikanku. Hingga akhirnya kusadari, ada aliran energi lembut dari tangan kananku saat supir mengerem mendadak. Setelah kulihat, ada jari-jari seseorang disana. Kutelusuri pemiliknya, yang ternyata Lucky, dan saat kutatap matanya, dia jadi salah tingkah, melepaskannya.
Tiba giliranku yang terguncang dengan pengereman mendadak, aku seperti bingung mau menopang tanganku dimana. Awalnya hendak meletakkan di tangan Lucky, tapi urung karena seperti disengaja. Akhirnya aku memegang bangku didepanku. Lucky seperti kecewa, tapi paham. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapannya. Kami menaiki angkutan umum itu, entah sampai dimana, aku tidak ingat, karena dalam sekejap aku kehilangan jejaknya. Meskipun belum sempat mengatakan apapun, terbangun dengan kehangatan yang masih terasa di punggung tanganku itu, sudah menjadi bentuk kebahagiaanku utnuk bersyukur dan tersenyum kembali. Tuhan, Engkau begitu baik. Engkau hadir dalam sosok dia yang kurindu. Aku yakin itu Engkau. Aku yakin pula Engkau yang meletakkan keyakinan rasaku padanya dalam hatiku. Engkau yang selalu setia menghiburku. Terima kasih Tuhan.

Rabu, 12 September 2012

Lucky Hope

Setelah sekian lama bersemedi dalam keheningan semesta, menelaah apa arti dan pentingnya tanggung jawab, aku kembali ke tanah perjanjian ini. Dalam ruangan penuh buku dan manusia peneliti kasus aku menulis lanjutan kisahku. Tanggal 30 Agustus 2012 lalu, aku sempat terhanyut dalam khayalan dan memori bersama dia. Awalnya aku hanya berimajinasi mengenai bagaimana bentuk seminar hubungan yang akan kudatangi bersama Neng Cit dan kawan-kawannya tanggal 15 September nanti. Apakah seperti ajang pencarian jodoh atau sejenisnya. Dan tak lama kemudian, aku jadi terhenyak dengan kemungkinan, apakah Lucky akan hadir? Karena acara itu ditujukan untuk semua muda-mudi Kristiani dari gereja manapun. Lalu, apa yang akan kulakukan jika memang benar dia akan datang? Dapatkah aku berkomunikasi selayaknya teman biasa? Atau hanya kembali terdiam seperti yang kami lakukan dulu? Karena kuakui saat ini aku mulai kembali merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang-orang selain keluarga dan sahabat-sahabatku. Begitu banyak pertanyaan muncul di benakku. Sampai akhirnya dalam keheningan (mengantuk pula) terciptalah konsep pembicaraan yang ingin kukatakan padanya. Pembicaraan ini mungkin akan terjadi jika kami sama-sama terkejut untuk kemudian terdiam.
Lama tak berjumpa. Apa kabar Ky? Dia pun akan menjawab bahwa dia baik-baik saja. Saat dia menanyakan kabarku, akupun akan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dan saat kami kembali terdiam aku akan memulai pembicaraan. Anyway, aku dengar kamu sudah lulus ya? Selamat ya. Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Dia pun akan menjawabnya (kuharap) dengan menjelaskan cita-cita dan tempat harapannya tertuju. Kemudian dia akan menanyakan hal yang sama kepadaku. Akupun akan jujur mengatakan bahwa aku masih dalam proses meraih kelulusanku. Jika beruntung, dia akan menanyakan alasan mengapa aku sangat tertinggal dan akupun akan menjawab sejujurnya mengenai kehidupan yang baru kupahami. Namun, jika aku tidak beruntung karena dia tidak ingin tahu alasannya, akupun hanya dapat terdiam dan mencoba langsung berbicara serius. Aku akan memulainya dengan sebuah pengakuan. Aku bersyukur Ky kita bisa bertemu lagi. Aku sudah menunggu kesempatan ini dari dulu karena aku mau menyampaikan sesuatu. Aku harap kamu mau mendengarnya.
Kamu boleh percaya atau tidak, setiap kali aku melihat orang-orang, selain keluargaku, aku seperti dapat menangkap energi yang dominan keluar dari orang tersebut. Energi yang dapat berupa sifat. Maka dari itu, aku sering mengacuhkan banyak orang. Dengan begitu aku berharap tidak terhisap oleh energi-energi yang mereka keluarkan. Karena aku juga tidak ingin menyakiti mereka dengan berpura-pura nyaman di dekat mereka, saat yang kulihat dari mereka, sebenarnya membuatku tidak nyaman. Tapi penglihatanku tidak selalu benar. Adakalanya orang-orang menyembunyikan atau mengurangi energinya. Lagipula siapa aku yang berhak menilai seseorang? Hehehe. Namun, semuanya berubah saat yang kulihat itu kamu. Energi yang dominan kamu keluarkan adalah energi yang sangat kusukai, yakni ketulusan. Dan seumur hidupku, baru kamu yang mampu menghadirkannya di mataku, yang membuat mataku tidak pernah lepas melihatmu. Semakin sering melihatmu, semakin tinggi pula harapanku untuk merasakan bahkan untuk memiliki ketulusan yang kamu punya. Itulah mengapa, dulu, aku berusaha mendekati kamu bahkan sampai menyukai kamu. Maafkan aku ya Ky. Maafkan aku yang mencintaimu dengan cara yang salah. Setelah mengatakan ini, jika dia hanya diam, aku akan pergi menenangkan emosiku. Lalu aku akan kembali dan mengucapkan, terima kasih ya Ky. Bertemu denganmu membuatku mengenal hidup.
Harapanku, setelah percakapan itu, dia dapat mulai menanyakan mengapa dulu, setiap aku bertemu dengannya, aku tidak menyapa, padahal kami berkirim pesan dan bertelepon. Aku pun akan menjawab, karena aku paham obsesiku untuk memiliki ketulusanmu adalah salah. Jadi diantara celah obsesi itu, ada rasa bersalah yang semakin besar yang membuatku tidak dapat berkomunikasi baik denganmu dan juga membuatku kehilangan aku. Tapi, obsesiku masih sangat dominan saat itu, yang mampu membuka tirai malu yang seharusnya ada. Aku benar-benar dibutakan oleh ego diriku. Syukur kepada Tuhan, Dia dengan sungguh ingin melatihku membuang obsesiku itu. Bertahun-tahun kita tidak bertemu, padahal jarak perumahan kita hanya sekitar satu kilometer. Hidupku pun dimasuki dengan berbagai macam orang dimana akupun banyak belajar dari mereka. Tuhan mau aku membuka pikiranku, menerima kekalahanku, dan mensyukuri berkat penglihatan yang Dia beri, yang sampai sekarang masih menjadi pembelajaran bagi diriku. Lalu, bagaimana denganmu Ky? Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya mengenaiku dulu? Basi memang, tapi aku masih ingin tahu yang sesungguhnya dari kamu. Ya, itupun kalau kamu tidak keberatan hehehe. Jika dia menjawabnya dengan jujur, aku sangat beruntung. Namun jika tidak, tidak apa-apa. Tuhan yang sungguh baik yang akan membukanya.

Sabtu, 01 September 2012

Lucky Graduation

Telah kutinggalkan romansaku di sini selama dua bulan. Sebenarnya bukan karena tidak ada yang terjadi, tapi justru karena ada yang terjadi. Aku sengaja meninggalkan kegiatan menulisku di sini sementara. Tujuanku ingin benar-benar fokus menata prioritasku sekarang. Tapi bukannya bergerak maju, yang ada malah ketidakseimbangan. Tidak akan kujelaskan di sini karena ini bukan tempatnya hehehe. Saat melewati bulan Juli tanpa ada kabar apapun dari dia, aku merasakan keseimbangan. Aku hanya mencoba peruntungan menjadi pegawai pemerintahan di akhir bulan itu. Namun, apa daya, 09 Agustus 2012, pengumuman keluar dan administrasiku ada yang cacat, yang membuatku tidak lolos tahap selanjutnya. Bukan hanya kabar ketidaklolosanku saja yang menjadi kejutan, tapi juga kabar kelulusan dari dia, yang masih terpatri di jiwa ini, enam hari sebelumnya.
Dalam ingatanku, bunga tidur itu terjadi sebelum kulihat foto kelulusannya. Seperti kelanjutan dari mimpiku yang lalu tentang dia. Setelah mimpiku yang terakhir tentang dia bersama keluargaku, kelanjutannya ada dalam dua mimpi. Mimpi keempat. Aku tersadar berada di sebuah sekolah, di kelas yang ramai. Sepertinya aku menjadi murid putih abu-abu. Aku melihat beberapa teman-teman sekelasku di sana. Tapi kenapa ada Neng Cit? Aku tidak satu sekolah dengannya. Saat itu ada tugas. Kulihat ketika aku mengerjakannya, aku membuat kesalahan. Aku membutuhkan tip-ex untuk memperbaikinya, tapi aku tidak dapat menemukannya. Aku mencari ke seluruh bangku dan tiba-tiba kulihat tip-ex milikku di tangan seorang lelaki yang sedang memakainya. Lelaki yang ternyata adalah Lucky. Sempat terdiam sesaat, pikiranku penuh tanda tanya besar, mengapa dia ada di kelas yang sama denganku? Tapi aku kembali tersadar dengan tip-ex yang kucari. Dengan ketus kuminta tip-ex itu. Tip-ex yang berwarna biru atau abu-abu ya? Samar dalam ingatanku. Lalu dengan sikap acuh tak acuh sambil mengunyah permen karet, dia pun mengembalikannya.
Mimpi kelima. Peristiwa dalam mimpi ini benar-benar sangat berbanding terbalik dengan mimpi sebelumnya. Mimpi ini terasa begitu nyata dan dewasa (weits, bukan yang berhubungan dengan reproduksi ya, hehehe). Lucky dan aku. Hanya kami berdua sedang duduk santai sambil berbincang-bincang. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi dalam percakapan kami di mimpi-mimpi sebelumnya, dalam mimpi ini kami begitu banyak bercerita, begitu terbuka, dan santai. Dia pun tidak merasa enggan untuk bersentuhan kecil denganku. Terasa hangat, seperti sahabat. Dia dengan gaya bicara dan sikapnya yang dewasa, berhasil memunculkan sisi feminin dalam diriku saat itu. Terdengar tawa kami, antusias kami, harapan kami di sana. Suasana yang begitu sejuk, hijau, membuat kami sangat merasa nyaman satu sama lain. Dan ketika kuterbangun, kebahagiaanku berlimpah ruah. Wow, betapa beruntungnya aku. Tidak berselang lama, esok harinya, kulihat ternyata dia memang sedang bahagia di dunia nyata. Tapi bukan karena aku, melainkan karena kelulusan sidang sarjananya. Lalu, seperti biasa, aku menceritakannya kepada Neng Cit sebelum dan sesudah kutahu kabar kelulusannya. Untuk sesaat aku terpacu dengan kesedihan bahwa pada kenyataannya, aku tertinggal. Aku harus lulus!
Semua mimpi itu terjadi menjelang pagi. Jika ingatanku tidak salah, aku pernah membaca sebuah buku, bahwa mimpi menjelang pagi ini dapat datang dari kehendak Tuhan. Benar atau tidaknya, aku tetap bersyukur kepada Tuhan. Ia sungguh baik, sungguh mendengar, dan sungguh membawa keselamatan. Hari yang baru diawali dengan mimpi yang indah. Betapa hebatnya Engkau, Allah di surga!


Kamis, 28 Juni 2012

Lucky Man Behind The Mask

Melewati tiga kali kesempatan untuk menulis disini sebenarnya kusengaja. Bukan karena malas, tapi karena aku memang belum lagi memiliki cerita untuk kubagikan. Ya, setelah Java Man, kisah romansaku belum beranjak kepada siapapun. Aku benar-benar berusaha untuk fokus pada hidupku. Jika memang Tuhan izinkan pasanganku datang, pasti dia akan datang pada waktu yang tepat. Klise! Hahaha, aku belum mau mencarinya saja Tuhan. Tapi ada yang ingin kutulis disini mengenai penglihatanku di Trans Jakarta tanggal 26 Juni 2012 lalu. Mengapa tidak kutulis hari itu? Kelelahan saudara-saudara! Hahaha. Macet, padat, merayap, itulah yang selalu terjadi di Jakarta pagi dan sore hari, yang pastinya harus dihadapi. Tak akan ada habis-habisnya jika harus membicarakan Jakarta. Mari kembali pada peristiwa yang kualami diantara keberuntunganku hari itu. Hari itu aku sedang pergi ke Klinik Backup (klinik khusus tulang) di Central Park, Grogol. Aku ditemani oleh Riris. Kami berangkat sekitar jam tiga sore dari rumahku. Kami menggunakan kendaraan umum untuk kesana dan Trans Jakarta termasuk salah satunya.
Saat itu jam setengah delapan malam, waktu dimana kami keluar dari Central Park. Kami sengaja keluar malam untuk menghindari macet dan kepadatan orang-orang yang sedang pulang bekerja. Tapi ternyata saudara-saudara, meskipun sudah berusaha tetap saja laju kepadatan para pekerja Jakarta tidak dapat dihindari dengan mudah. Trans Jakarta yang kami naiki penuh tapi untung tidak menyesakkan. Kami masih dapat berdiri dengan lapang. Dari awal masuk bis, ada yang menarik mataku untuk melihat sekelebat sosok yang masuk bersamaan dengan kami. Ya, seorang lelaki dibalik masker di wajahnya. Awalnya kupikir itu hanya karena faktor bentuk wajah yang indah dibalik masker. Tapi saat keberuntungan membawaku pada kursi kosong, aku kembali dapat memperhatikan dia pada posisi yang pas. Mungkin aku terlalu penasaran, hingga membuat dia risih. Dia terlihat salah tingkah dan kepanasan karena mengetahui pandangan mataku mengarah padanya. Bagaimana aku dapat melepaskan pandangan itu saat kulihat postur, aksesoris, dan bentuk wajahnya mirip dengan Lucky. Yeah, dia lagi dia lagi, hahaha. Boleh ya Tuhan (wink-wink).
Rambutnya tipis lurus dan beberapa bagian menutupi dahi. Bentuk wajah yang bulat namun memiliki garis rahang dengan hidung mancung. Tubuh yang terlihat atletis dengan otot-otot kencang terbentuk di lengan tangannya. Dan gelang berbahan karet warna hitam yang melekat di tangan kirinya, seperti Lucky yang selalu memakai gelang seperti itu. Seksama kuperhatikan lelaki itu. Aku penasaran hingga berencana ingin menanyakan langsung. Tapi apa daya, Riris yang berada dihadapanku tidak mau bergantian untuk menduduki kursiku. Jadi kuurungkan saja niatku itu. Aku kembali bertanya apa benar itu dia? Ada yang ganjil. Rambutnya sejak kapan berwarna hitam? Lalu, kemeja, celana bahan, dan sepatu resmi? Dan telepon selular yang dia gunakan untuk mendengarkan musik? Aku jadi ragu. Itu bukanlah Lucky. Dan aku semakin yakin saat melihat dengan jelas kedua matanya. Mereka terbuka lebar dan berwarna coklat tua. Dan itu bukanlah Lucky. Lucky yang kuingat, berambut coklat gelap sepertiku, mata yang sipit, dan lebih tinggi dari lelaki itu. Telepon genggam yang aku yakin digunakan Lucky saat ini adalah Blackberry. Lucky juga bukan tipe pecinta angkutan umum. Lalu siapa dia?
Sesaat sebelum mencapai halte tujuan akhir yakni Pinang Ranti, dia turun. Setelah sebelumnya dia melepaskan maskernya dan memperlihatkan bagian kiri wajahnya. Ya, itu bukan Lucky. Entah mengapa aku merasa lega itu bukan dia. Karena jika kutahu itu dia, entah apa aku mampu menyapanya setelah sekian lama. Tapi lelaki dengan masker itu sepertinya kukenal. Dia lebih mirip teman SMAku yang terkenal cukup tampan hingga membuat seorang kakak kelas yang kembar menyukainya. Jefferson namanya. Nama dan fisik seimbang indahnya hehehe. Setelah dia turun, aku terlarut dalam pikiranku sendiri. Apakah dengan Riris aku memang akan bertemu Lucky lagi? Ini kali kedua aku mendapati diriku berharap melihat sosok pemilik nama beruntung itu saat berjalan bersama Riris. Hahaha ada-ada saja kamu. Sampai di rumahku, kami pun menyantap makan malam meskipun sudah terlambat. Aku menjadi sedih mengetahui kebenaran bahwa aku masih merindukan "Lucky Irene" dalam hidupku. Apa benar ini kehendak Tuhan atau hanya egoku semata? Kalau benar ini kehendak Tuhan aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Tapi jika tidak, aku pun sangat bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan mengajariku menghadapi egoku sendiri.

Selasa, 19 Juni 2012

Seperti Dia

Belum dapat kupastikan apa yang akan kutulis saat judul ini kupampang disini. Masih banyak emosi labil yang menghantui kepalaku. Sampai tadi malam aku mulai mendapat pencerahan tentang apa yang akan kutulis. Blog ini dibuat untuk memuat kisah-kisah romansa yang kuanggap penting dalam perjalanan hidupku. Dan kisah itu tidak selalu datang setiap hari karena kisah ini belum berujung pada seorang lelaki yang Dia kehendaki bersanding di sampingku hingga akhir hayat kami sebagai manusia. Jadi sepertinya blog ini akan mulai terisi di waktu-waktu tertentu dimana kurasa ada hal yang ingin kusampaikan atau dari apa yang kualami. Untuk waktu yang begitu lama pada akhirnya aku mau mengungkapkan apa yang terjadi dalam hidupku. Lalu, apa yang hendak kamu tulis dengan judul itu wahai sang penulis Mayagarene? Narsis sedikit bolehlah, hahaha. Tulisan ini tercetus dari banyaknya pertanyaan yang sering orang tanyakan kepada para lajang yang belum memiliki pasangan. Pertanyaan tentang kriteria pasangan yang diidam-idamkan. Mau pasangan yang seperti apa? Mau yang bekerja apa? Mau yang sifatnya bagaimana? Biasanya orang-orang akan menjawab yang baik, ganteng, dokter atau mandiri, cantik, pengusaha.
Ya, begitu banyak kriteria yang akan keluar dari mulut kita saat pertanyaan-pertanyaan itu datang. Apalagi jika hal ini ditanyakan kepada para pelajar, hahaha, tidak terbayang akan sebanyak apa jawaban itu. Namun, ada satu hal yang kusadari. Semakin bertambahnya umur, semakin sedikit kriteria yang dibutuhkan seseorang untuk mendeskripsikan pasangan idamannya. Benarkah? Hahaha, itu hanya teoriku saja. Sebenarnya itu kembali lagi pada tingkat kedewasaan seseorang. Dan tingkat kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari usia. Setuju? Ooo yes! Itulah yang sedang kualami saat ini. Setelah bertemu dengan beberapa lelaki yang kuanggap spesial dalam hidupku, aku mulai mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai interaksi istimewa dengan lawan jenis. Mungkin belum cukup banyak lelaki yang kukenal. Mungkin akan banyak Aga-Aga lain atau Mr. T-Mr. T lain yang akan datang ke dalam hidupku. Tapi satu hal yang pasti aku hanya ingin menerima seseorang yang benar-benar seperti Dia. Apa maksudnya? Siapa itu Dia? Dengan huruf kapital dalam penulisan Dia, kalian sudah pasti tahu siapa yang kumaksud. Siapa lagi kalau bukan Tuhan? Pencipta yang Maha Kuasa dan Maha Baik. Wow! Sempurna sekali kriteriamu. Manusia mana mungkin ada yang sama dengan Dia? Hahaha, justru itulah tujuan kata seperti sebelum kata Dia.
Seperti berarti hampir sama atau mirip. Maksud seperti itulah yang kiranya muncul dibenakku saat Neng Cit bercerita tentang kriteria pasangan idamannya. Kami berdua merindukan pasangan yang seperti Dia. Untukku pribadi, seperti Dia berarti seorang lelaki yang nyaman dengan cinta Tuhan di dalam hatinya. Maksudnya? Nyaman dengan cinta Tuhan maksudnya nyaman dengan dirinya sendiri. Artinya lelaki itu benar-benar menerima sepenuhnya kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Mengapa harus lelaki yang seperti itu? Karena lelaki yang seperti itu pasti memiliki PBB hanya kepada Tuhan. PBB? Perserikatan Bangsa-Bangsa? Hahaha, bukan. PBB disini adalah Percaya, Berharap, Bersandar hanya kepada Tuhan. Lalu, apa pengaruhnya untukkmu sebagai pasangannya? Kurang lebih akan ada tiga hal yang kuyakin akan mengubah hidupku setelah aku bertemu dengan lelaki yang seperti Dia.  
Pertama, dengan kasihnya, lelaki ini akan membantuku menambah kadar imanku. Caranya dengan bersedia selalu mengingatkan aku akan cinta Tuhan yang tidak terbatas. Dimana aku diajarkan untuk selalu bersyukur, berdoa, dan berbagi kasih sesuai firmanNya, dalam keadaan susah atau senang. Jika tidak, aku akan merasakan kehilangan yang paling besar, jauh lebih besar dari pada aku kehilangan pasanganku itu. Kedua, dengan pemikirannya yang bijak, dia akan selalu bersedia menolong siapapun yang membutuhkannya. Tidak peduli apakah orang yang akan ditolongnya itu pernah menyakiti dia atau keluarganya atau orang-orang yang dikasihinya. Niat dia akan tetap teguh untuk menolong sebaik mungkin. Ketiga, dengan kejujuran dan kesetiaannya, dia akan bersedia mendengarkan, memaafkan, dan menerima segala kekurangan dan kesalahanku yang telah menyakitinya hingga akhirnya aku menjadi pribadi yang lebih baik tanpa kehilangan jati diriku.
Kriteria pasangan yang kuinginkan ada dalam sepuluh baris. Tapi yang kuinginkan belum tentu sama dengan yang Tuhan inginkan. Jadi, sepuluh baris itu akan atau tidak akan berarti apa-apa jika Tuhan tidak merestuinya. Karena dua orang yang berbeda menjadi satu bukan karena persamaan yang mereka miliki, namun karena cinta Tuhan yang terpancar dari hati mereka masing-masing. Semoga setiap pembaca tulisan ini benar-benar akan menemukan cinta sejatinya. Amin.

Senin, 18 Juni 2012

Lucky Dream

Sungguh-sungguh maaf yang hanya dapat keluar dari mulutku. Seharusnya tulisan ini dipampang tanggal 17 Juni 2012 tapi karena hari itu aku begitu sibuk beres-beres dan penyegaran di Bandung, jadi baru sampai dikosan sekitar jam setengah sebelas malam. Weeeh, begitulah jadi kemarin pun sepertinya aku tidak sanggup melakukan apapun, tidak ada gairah atau semangat untuk melaju kemanapun. Berlebihan? Mungkin. Hahaha. Kemarin pun aku seperti orang yang tidak nyambung dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku ingin berjalan-jalan ke pasar sendirian tapi ragu karena tidak tahu cara berbelanja sedikit di pasar. Jadi kemarin aku meminta Mamaku datang mengajariku. Jujur, hidup sendiri dengan harus memenuhi segala kebutuhan sendiri itu membosankan. Sangat membosankan. Berinteraksi dengan orang lain pun aku tidak bersemangat karena wajah jerawatan. Ampuni aku Tuhan yang selalu mengeluh ini. Hilang semangat Tuhan, tidak ingin ke kampus pun, tidak ingin kemana-mana pun. Tapi aku masih ingin menulis, menulis, dan menulis.

Untuk tulisan ini aku ingin menceritakan tentang bunga tidurku dimana ada saudara Lucky di sana. Saudara? Darimana asalnya? Hahahahaha. Awalnya aku menganggap bahwa itu mimpi hanya sekedar mimpi saja. Namun setelah terjadi hingga tiga kali dan dapat kuingat secara garis besar (karena menurut buku yang aku baca mengenai mimpi, manusia akan mudah melupakan mimpinya setelah bangun), aku pun jadi bertanya-tanya. Mimpi-mimpi itu terasa nyata dan sulit aku jelaskan bagaimana rasanya dengan terperinci. Yang menjadi pertanyaanku, apakah ini mimpi datang dari Tuhan atau ini hanya mimpi dari keinginan terdalam alam bawah sadarku? Sebelum dianalisis sejauh itu ada baiknya kuceritakan dahulu soal bunga tidurku itu. 

Mimpi pertama. Pagi itu aku terbangun dengan tenang, tapi tetap kaget lalu tersenyum-senyum senang sendiri. Mimpi jadi Ratu Sejagat yang bertemu dengan Raja Idaman? Hahahaha, tidak. Malam itu aku bermimpi sesuatu yang menyenangkan. Suasananya seperti retret. Namun ada suatu tempat seperti aula dimana banyak terdapat kursi pesta berjejer di sana. Di sana ada Lucky dan sahabat-sahabatnya, Gery dan David. Tentunya ada aku di sana. Dari awal acara (entah acara apa) aku tidak dapat melepaskan pandanganku ke Lucky. Antara perasaan heran ada dia disini dan ingin tahu sebenarnya ada apa, hingga tanpa sadar dia pun memandangku juga sembari tersenyum. Senyuman menarik. Aku pun mengalihkan pandanganku. Tanpa sadar Lucky menghampiriku dan menanyakan kabarku dan aku (sepertinya) hanya tersenyum. Lalu tibalah saat pindah ke ruangan yang seperti aula itu. Di sana aku sedang duduk di bagian depan dengan Bapakku. Namun tidak lama setelah kami ngobrol, Bapakku pergi dan tiba-tiba datang kembali membawa Lucky. Didepanku, Bapakku menitipkan aku kepada Lucky dan meminta dia menjagaku. Kemudian setelah itu kami duduk berdua berdampingan di situ. Mungkin wajahku saat itu sangat kaget.

Mimpi kedua. Aku sedang berjalan-jalan bersama sahabat-sahabatku, Nana, Neng Cit, dan Riris. Kami berada di tempat seperti Taman (karena ada berbagai bunga berwarna cerah dan rumput-rumput yang tertata rapi dan tanaman pagar yang terawat) dan sedang bersenda gurau sambil menyusuri jalan setapak kala itu. Namun, aku tiba-tiba terdiam karena melihat tiga orang lelaki sedang berjalan dari arah berlawanan. Lucky, Gery, dan David. Dan Lucky pun terdiam saat melihatku. Dia dan aku pun hanya tersenyum malu-malu. Sahabat-sahabatku pun mulai menyadari kami akan berpapasan dengan siapa, dan dengan semangat mereka mulai mengusikku dengan beragam candaan, persiapan, dan percakapan. Tapi aku hanya menolaknya sambil tersenyum kecil. Dan sepertinya perlakuan itu juga datang dari kelompok di hadapan kami. Saat kami berpapasan, entah bagaimana caranya, tiba-tiba Lucky memegang tanganku dan menahanku hingga dia dan aku berbalik saling melihat satu sama lain. Dia tersenyum lebar (memperlihatkan gigi) dan aku yang kikuk pun jadinya tersenyum malu. Sedangkan sahabat-sahabat kami hanya melihat sambil tertawa dari kejauhan. Dan setelah beberapa menit dia melepaskan tanganku dan kami kembali melanjutkan perjalanan kami. Habislah kami menjadi bahan candaan sahabat-sahabat kami. Saat bangun, tanganku menengadah ke atas dan kehangatan genggaman tangannya masih dapat kurasakan

Mimpi ketiga. Aku sedang berkumpul dengan keluargaku. Di sana ada Bapak, Ibu, adikku, dan aku. Tiba-tiba kulihat Lucky datang, duduk bersama dengan kami. Dia pun berbincang-bincang dengan lancar dengan keluargaku saat itu. Aku yang ada di situ pun hanya terheran-heran dan merasa sangat kaget dengan kehadiran dia di situ. Aku pun hanya jadi pengamat dan pendengar yang bijak di situ. Aku sembari berpikir apa yang terjadi dan mengapa dia di sini. Namun, itu tidak berlangsung lama sampai aku pun memutuskan untuk tidak berpikir macam-macam dan cukup hanya merasa senang dengan apa yang kulihat dan kurasakan. Tidak lama setelah berbincang-bincang dengan keluargaku, dia pun meminta izin ingin berbincang-bincang denganku. Keluagaku pun mengizinkan. Dan dia berpindah duduk di sebelahku. Kami pun mulai mengobrol panjang, seru, dan seperti dua orang sahabat lama yang lama tidak bertemu, kami tidak merasa canggung untuk berbagi cerita mengenai apapun. Tidak lama setelah itu aku pun bangun. Terkaget dan sangat bersyukur menerima mimpi yang indah. Tidak kusangka hingga sejauh itu mimpi yang kualami.

Setelah beberapa waktu kupendam bunga-bunga tidurku untuk diriku sendiri, aku pun akhirnya menceritakan mimpi-mimpiku itu kepada Neng Cit. Hari itu aku mau ke bengkel mengecek ban belakang yang kurasa kempes dan goyang. Kuajak Neng Cit hari itu. Dengan undangan makan pempek Calvin. Di ruang tunggu bengkel, aku pun menceritakan mengenai segala mimpiku itu. Menceritakannya dengan penuh semangat dan keheranan karena memang itu yang kurasakan. Dan kemudian mengkombinasikan dengan buku mengenai mimpi yang baru kubaca. Kudiskusikan dengannya. Dia pun akhirnya menyimpulkan bahwa mimpi-mimpiku ada karena jauh di alam bawah sadarku, aku tetap ingin Lucky menjadi bagian dari hidupku. Itu terlihat dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam mimpiku. Ada orang tuaku, adikku, sahabat-sahabatku. Ya, harus kuakui, semenjak aku memutuskan untuk tidak lagi meletakkan rasa istimewaku hanya untuk dia, aku selalu menyangkal keberadaan dia dalam pikiranku. Keinginanku pun untuk merindukannya selalu aku sangkal. Aku tidak yakin itu didatangkan oleh Roh Kudus. Aku berpikir itu datang dari Roh lain yang ingin mengecohku. Tapi setelah aku mendengar komentar Neng Cit, aku pun jadi yakin dengan kalimat yang pernah kubaca di buku, bahwa semakin kita menyangkal sesuatu yang kita inginkan, semakin kuat keinginan itu tumbuh di pikiran kita, sadar atau tidak sadar. That's all just my "Lucky Dream" XD

Jumat, 15 Juni 2012

Lucky Me

Hari itu tanggal 17 Maret 2012. Aku dan Riris, salah satu sahabatku, memutuskan untuk jalan-jalan. Cuma berdua? Hei, jangan berpikir macam-macam, kami normal. Ini karena hanya kami berdua yang sedang memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan. Sedangkan Nana dan Neng Cit sedang tidak dapat diganggu gugat hehehe. Aku yang memang berencana belanja untuk acara masak memasak. Ya, sembari pengobatan terapi jerawatku berjalan (tinggal di rumah agar gizi lebih terjamin), aku melakukan kegiatan itu. Sekaligus juga menjadi pengurus rumah tangga alias pemerhati segala kebutuhan apapun dalam rumah. Hari itu, Riris menemaniku karena dia memang sedang libur. Perjalanan pertama kami adalah Plaza Pondok Gede. Aku berbelanja di Naga Pasar Swalayan, tempat yang sejauh ini menurutku adalah yang termurah hehehe. Pada akhirnya memang hanya dua kantong belanja, tapi dengan ukuran besar dan berat! Hal ini kemudian menyulitkanku untuk menyetir motor yang kami bawa saat itu. Mengundang banyak kekesalan karena aku kurang lihai jika berboncengan, kami tetap berjalan pelan-pelan menuju Jatiwaringin dengan tujuan mencari kabel printer. Aku ingin memperbaiki printer di rumah.
Menyusuri sepanjang jalan Jatiwaringin, aku dan Riris pun akhirnya sampai mentok di perempatan tol Jatiwaringin. Ya saatnya putar balik. Padatnya dan lebarnya jalan Jatiwaringin saat itu, menyulitkanku yang membawa motor dengan belanjaan berat dan Riris yang berat juga, ups! Hahaha. Pelan-pelan kulaju motor itu sembari melihat kesempatan berbelok. Namun, sulit sekali. Sampai akhirnya tiba-tiba kedua mataku terpaku mengikuti sesosok wajah yang keluar dari jendela mobil sedan hitam saat itu. Antara percaya atau tidak dengan penglihatanku, aku seperti melihat Lucky. Seseorang yang pernah kuceritakan di tulisan yang lalu. Berusaha kukejar saat itu, tapi tidak terkejar dengan beratnya beban yang kubawa. Akhirnya aku memutuskan pulang. Tanganku gemetar, bukan karena melihat Lucky, tapi karena kecapaian memegang kemudi. Hal ini tidak kuceritakan pada Riris karena dia memang tidak kuberitahu soal kisah asmaraku sama sekali hehehe. Mengapa? Karena ceritaku sering dianggap tidak serius olehnya. Jadi sampai dia pulang pun tidak ada yang kuceritakan.
Bagaimana perasaanku? Hahahaha, aku senang sekali. Entahlah padahal itu kan belum tentu dia kan? Hahaha. Aku begitu bersemangat seharian itu, aku seperti mendapat titik terang kembali. Tapi untuk sekejap kemudian aku mulai tersadar bahwa dia bukanlah segala-galanya. Tidak boleh mencintai manusia lebih dari mencintai Sang Pencipta, tidak boleh. Namun, rasa senang itu tetap masih ada. Bahkan sampai saat aku menulis sekarang ini hahaha. Setelah lima tahun berlalu, pada akhirnya aku seperti melihat dia, "Lucky Irene". Kesenangan itu pun ingin kubagikan. Pertama kepada teman sekelas SMAku, Oshin, yang tahu apa yang kurasakan. Hmmm, dia sepertinya tidak ikut senang. Secara tersirat, dia cenderung menganggap aku tidak mampu melupakan masa lalu beserta pelaku-pelakunya. Memang, pada saat reuni Rokris kemarin dia sudah mengatakan bahwa Lucky datang dan tambah ganteng, tapi aku menanggapinya dengan dingin. Hahaha, tidak konsisten ya? Hahaha. Dari dulu memang dia ganteng jadi mendengar ada yang bilang dia semakin ganteng aku merasa biasa saja karena kupikir aku sudah tidak punya rasa apapun ke dia.
Tapi semua itu salah, salah besar. Setelah melihatnya kembali, aku jadi sadar, bahwa memang cuma dia, satu-satunya lelaki yang masih kukagumi sampai sekarang ini. Aku pun menceritakan kejadian ini kepada Neng Cit, sampai membuat temu janji segala hahaha. Ya, bukan hanya ngobrol soal itu tapi meminta saran juga soal model gaun yang ingin kujahitkan. Karena bulan depan aku akan menjadi penerima tamu di pernikahan sepupuku. Dia kaget, dia pun senang mendengar ceritaku melihat Lucky. Aku pun sangat bersyukur saat itu. Doaku terjawab. Dan Tuhan memang sangat baik. Senang sekali aku dengan kuasaNya itu. Itulah yang kemudian kusampaikan kepada Neng Cit. Namun setelah itu aku kembali bertanya-tanya apakah memang benar itu dia? Akhirnya dengan nekat dicampur penasaran, aku pun mulai berani melewati rumahnya dengan motor. Konyol memang. Apalagi dilakukan berkali-kali olehku. Tapi itu semua kuhentikan saat aku berulang tahun ke-24 bulan Mei kemarin. Sudah tua ya? Malu kuakui tapi itulah kenyataan. Dan setelah pengecekanku berulang kali aku tetap tidak menemukan sedan hitam yang kulihat dipakainya. Sudahlah, tidak penting itu semua. Jika memang jodoh, cinta Tuhan pasti akan menyatukan kami. Beruntungnya aku melihat dia.