Senin, 11 Juni 2012

Antara Ada dan Tiada

Aku pindah (pindah ke lain hati?). Hahahaha, yang benar saja. Seperti cerita sebelumnya, aku pindah ke kosan yang baru. Mr. T begitu sibuk dengan MT (Management Training) di Jakarta hingga enam bulan ke depan terhitung mulai Mei 2011. Jadi itulah alasannya aku dapat meminjam kamarnya beberapa kali. Aku banyak melihat isi kamarnya. Foto Natnat, Ms. A, dan dirinya sendiri ada di situ. Aku pun banyak menghabiskan waktu dengan Giegie dan Roliv. Mendengar cerita tentang Mr. T selama aku tidak ada dikosan. Aneh memang rasanya, setelah sekian lama tidak bertemu, tiba-tiba bertemu lagi dan tinggal di satu atap. Kamar mandi bersama, dapur bersama, dan lain sebagainya. Di tambah dengan mulai munculnya rasa yang spesial, tidak biasa dalam diriku, membuatku harus menghindar dari  Mr. T. Alamiah ya itu? Karena saat seseorang berusaha menyangkal sesuatu, dia pasti akan menghindarinya. Aku memang sangat berusaha menyangkal karena aku harus menyadari penuh bahwa Mr. T sudah kembali dengan Ms. A. Aku tidak boleh memiliki harapan lebih dari pertemanan kami. Dan jika harus ada orang yang tahu mengenai perasaanku ini hanyalah Tuhan, Neng Cit, dan aku sendiri. Mengapa tidak Mamaku? Well, kisah romansa beliau sepertinya gagal sesudah kuterapkan.
Dengan sibuknya Mr. T, aku pun harus ke kampus sendirian. Aku pun melangkah ke kampus hari itu. Tujuanku untuk membantu salah seorang teman, yang menganggap aku "sahabatnya", sebut saja Loren, menghadapi sidang Usulan Penelitian (UP). Saat dimana tiga bab pertama dari skripsi anda diujikan. Aku dimintai tolong olehnya untuk menjadi notulen. Akupun menyanggupinya. Setelah selesai dengan segala urusan itu, akupun sempat duduk di luar ruangan sidang dan tanpa disengaja bertemu dengan Natnat. Wah, karena jarang sekali mengobrol, kami pun terlihat senang dengan pertemuan itu. Dia menanyakan kabarku dan gosip apa yang sedang beredar di kampus. Hahaha, aku pun hanya menjawab baik dan tidak tahu karena sudah lama sekali tidak ke kampus. Lalu aku pun iseng menanyakan soal pacar barunya. Karena dia masih merahasiakannya dari siapapun. Aku pun tahu dari Giegie yang diberitahu Mr. T. Pesan berantai? Kurang lebih hehehe. Natnat tidak berniat memberitahukannya saat ini. Aku menghormatinya. Dan aku pun berkomentar betapa cepatnya dia berpindah ke lain hati hehehe. Dia sendiri pun heran. Lalu perbincangan kami mulai menyebar dengan dia yang menanyakan kabar Mr. T kepadaku. Aku pun hanya memberitahu yang kutahu.
Kemudian, aku yang masih penasaran mengapa akhirnya Natnat melepas Mr. T mulai menanyakan hal itu padanya. Natnat sempat heran dan menanyakan apakah Mr. T tidak menceritakannya? Kalau diceritakan untuk apa aku bertanya, pikirku. Lalu dia pun mulai bercerita. Ternyata saat mereka mencoba membangun kembali hubungan baik, status Mr. T dengan Ms. A belumlah tuntas. Ternyata, Mr. T sudah membohongi aku dan Giegie dan Roliv. Ternyata, saat Mr. T menceritakan padaku hubungannya dengan Ms. A sudah berkahir itu tidak benar-benar berakhir. Karena Ms. A sudah mencoba bunuh diri karena ditinggal Mr. T. WOW! BIG WOW! Dan ternyata Natnat dijanjikan oleh Mr. T suatu hubungan baik dan serius setelah Mr. T benar-benar memutuskan Ms. A. Tapi nyatanya tidak semudah omongannya. Mr. T ternyata masih menjalin hubungan, malah lebih erat dengan Ms. A. Ironisnya, Natnat bercerita bahwa dia mengetahui hubungan diam-diam itu saat berada di gereja dengan Mr. T. Ms. A mengirimkan SMS mesra dengan kata sayang kepada Mr. T. A BIG WOW! again. Sungguh besar kuasaMu Tuhan. Setelah kejadian itu Natnat sangat terpuruk. Dia pun dibanding-baningkan dengan Ms. A oleh Mr. T. Mr. T mengaku merasa lebih dapat ketertarikan jika berhubungan dengan Ms. A. Dia pun lebih senang dengan penampilan Ms. A (yang sangat seksi). Parahnya lagi, Mr. T pun menjadikan Natnat dan Ms. A itu pilihan yang pollingnya dia dapat dari teman-temannya. Dari teman-temannya, Ms. A yang menang dengan foto punggung terbuka.
Dari segala keterpurukannya itu, untungnya Natnat memiliki sahabat yang mengerti dirinya. Akhirnya dia pun sadar dan menemukan cinta yang lain. Kupikir, beruntung sekali Natnat, tidak seperti diriku hehehe. Singkat cerita, meskipun akhirnya Natnat telah bangkit, nyatanya Mr. T masih belum mau melepaskan Natnat. Dasar serakah! Dia masih sering SMS Natnat menanyakan kabar. Ms. A yang posesif tidak mau kalah. Masih sempat Ms. A menghubungi Natnat bertanya tentang hubungannya dengan Mr. T. Seperti meneror secara tidak langsung, datanglah Ms. A merepet ingin tahu soal Mr. T dari Natnat. Konyol dan sangat menyedihkan Ms.A. Itu pikiranku saja. Tapi memang nyatanya seperti itu. Aku pun berterima kasih dengan Natnat atas berbagi cerita saat itu. Dan aku pamit pulang. Sepanjang perjalanan hingga sampai kosan pikiranku dipenuhi berbagai macam hal. Setelah kuurut segala kebersamaanku dengan Mr. T ternyata memang dia brengsek dan sangat serakah. Maaf Tuhan, aku berdosa. Karena banyak cerita yang ternyata memang berhubungan dengan tujuan dia untuk membuat dirinya selamat dan untung. Inilah beberapa paparan lebih jelasnya.
Saat itu masih bulan Februari 2011, aku yang masih sering menghabiskan waktu bersama-sama dengan Mr. T menghadiri pameran di Landmark, Braga. Karena setelah sekian lama kami baru jalan bersama lagi dan seperti biasa kami, menghabiskan waktu di Braga Permai dan Sumber Hidangan. Ya, Braga memang tempatku menikmati Bandung. Bersama Mr. T atau Giegie atau Abang, Kakak, dan Adikku. Banyak ya? Hehehe memang. Karena pernah aku dan Mr. T makan malam bersama dengan Abang, Kakak, dan Adikku yang sedang atang ke Bandung. tampak kaku dan kikuk karena seperti pertemuan keluarga saja hahahaha. Tapi lewati momen itu, sekarang kembali ke momen hanya kami berdua (cailaaah). Seperti biasa kami masih menaiki angkutan umum untuk pulang. Dan aku yakin Mr. T pun sudah biasa dengan angkutan yang demikian dan pastinya tahu turun dimana. Tapi tiba-tiba dia bersikukuh bahwa nanti dengan angkutan ini ke persimpangan Dago. Aku yang tadinya berdebat jadinya menurut saja karena sudah malam juga (apa hubugannya?). Di angkutan kami pun bercengkrama hingga akhirnya aku sadar kami sudah sampai di daerah Setia Budi tepat di Soerabi Enhaii (surabi tersohor di Bandung). Aku pun langsung memintanya turun di situ sekarang juga. Tak ada salahnya juga makan soerabi lagi hehehehe.
Terlalu terbuai dengan kesenangan, aku tidak menyangka akan bertemu teman-teman Ms. A di sana. Aku yang tanpa curiga sedikitpun dikenalkan oleh Mr. T. Tentunya setelah Mr. T menyapa mereka. Tak lama setelah itu teman-teman Ms. A pulang dan aku hanya menikmati surabiku dan Mr. T menyebutkan saus surabi yang sangat disukainya yang hanya ada di sini. Setelah bertemu dengan Natnat, persepsiku untuk saat itupun sudah berubah. Menurutku, Mr. T sengaja melakukan itu untuk memberi pesan kepada Ms. A bahwa Mr. T sudah dapat pengganti baru. Aku dimanfaatkan. Lalu setelah kejadian itu di hari ulang tahun Mr. T, aku kembali teringat. Aku, yang sudah setengah mati membelikan kado dan pizza kesukaan kami untuk dimakan bersama-sama, ternyata hanya menemui kamar kosong. Kecewa, karena setelah kutanya Mr. T pergi kemana dia mengatakan pergi dengan teman. Kupikir dengan teman kosan, karena dia menyebutnya hanya begitu. Ternyata setelah berbagi cerita ini dengan Giegie, aku baru tahu, dia pergi dengan Ms. A saat itu. Kekesalanku memuncak. Apalagi setelah tahu semuanya itu. Dan satu hal lagi, ternyata, Mr. T sedari dulu SMA atau SMP, aku lupa, memang mengejar dan selalu mengejar Ms. A.  Tapi dulu ditolak karena Mr. T jerawatan (seperti keadaanku sekarang). Dan setelah kuliah dicoba lagi dan akhirnya diterima.
Kata Mr. T sendiri, dia cinta Ms. A. Maaf Tuhan, tapi apakah memang cinta itu berhak untuk menyakiti dan memadukannya dengan tebar pesona? Karena itulah yang kulihat sekarang dari Mr. T. Giegie bercerita, setelah berkali-kali ditanyakan apakah memang benar dia mencintai Ms. A. Dan jawabannya yang selalu iya sama sekali tidak berbanding lurus dengan pembuktiannya. Karena Mr. T belum mau menghapus nomor-nomor perempuan lain selain Ms. A dari telepon selularnya. Dan dia masih bersikap baik dengan beberapa perempuan yang kutahu salah satunya adalah peserta Big Brother Indonesia, yang kulupa namanya, hehehe. Sampai Kakak Cantik itu mau membantunya pindahan kosan. Ya, akhirnya Giegie dan Mr. T ikut pindah dari kosan itu. Janggal, karena, aku benar-benar malas berbiacar apapun dengan Mr. T, bahkan saat membantunya pindahan, hingga saat ini. Aku memilih untuk tidak membuka diri lagi padanya. Aku sangat kecewa. Meskipun beberapa waktu lalu dia berada dalam kontak BBMku, aku tidak pernah duluan menyapanya. Anehnya sesaat sebelum dia mengundang diriku sebagai teman kontaknya, aku tahu dari teman Transmania, bahwa Mr. T memajang foto berduaan dengan seorang perempuan (Ms. A). Temanku mengira aku, tapi aku hanya dapat tertawa. Dan setelah berada di kontakku, dia tidak pernah sekalipun memajang lagi fotonya dengan Ms. A. Apa maksudnya?
Sayangnya, hingga sekarang segala kerumitan kebohongan yang Mr. T lakukan ini belum pernah kubicarakan lagi. Aku tidak berminat dan tidak ingin membicarakannya. Tapi aku butuh mengetahui ekspresinya. Oh, God, entah aku ini kuat atau tidak, entah perasaanku seperti apa saat ini kepadanya, yang pasti, aku yakin Engkau mempersiapkan waktunya dan segala sesuatunya dengan sangat baik dan tepat. Aku harus bersabar. Maafkan aku Gie, aku tidak mau ke tempatmu lagi karena aku tidak ingin bertemu muka dengan Mr. T. Sedari tadi, aku masih benar-benar kesal menulis cerita ini. Tuhan, ampuni aku yang belum dapat mengampuni sesamaku yang menyakitiku. Aku mohon pertolonganmu untuk dapat bangkit dari ini semua. Aku sangat berharap hanya kepadaMu Tuhan. Karena memang benar, manusia tidak akan pernah sesempurna Engkau. Manusia dapat menyenangkan dan dapat mengecewakan. Dan janganlah sekali-kali kamu berharap pada manusia, karena bukan mereka yang menentukan hasil akhir dan sejauh mana hidupmu bergulir.

Jumat, 08 Juni 2012

Lapis Demi Lapis Kebenaran

Sebelum melanjutkan ceritaku, aku ingin mengaku. Sebenarnya aku masih merasa tidak yakin mau membagikannya. Namun ini sudah sangat terlambat untuk dipotong. Sebenarnya menguak kisah lalu yang belum selesai hingga kini membawa rasa yang aneh untuk diriku sendiri.Entah untuk orang lain atau Mr. T yang kubicarakan di sini. Jujur, sampai cerita ini kutuangkan di sini. Aku belum pernah bertemu lagi dengan Mr. T sejak November 2011. Ternyata sudah hampir enam bulan ya? Hahaha, tidak terasa. Aku benar-benartidak memiliki kontak yang berarti meskipun itu hanya dari BBM atau sekedar SMS, kami tidak pernah melakukannya lagi. Ada apa? Aku pribadi, sudah tidak dapat percaya lagi sama Mr. T. Ada banyak lapisan yang dia tutupi selalu dan selalu ditutupi dengan pesona wajah dan matanya. Lapisan-lapisan itu bertumpuk lebih banyak dari yang kukira. Yang pada akhirnya membuatku seperti orang bodoh berharap bubur dapat menjadi nasi. Kurang lebih inilah lapisan-lapisan yang dibuatnya kepadaku.
Setelah insiden kaos yang kuberikan. Aku yang kecewa, marah, dan kesal, masih mencoba tenang untuk menanyakannya. Dan hasilnya, dengan gugup, terbata-bata, kata-kata "Masa Sih?", jalan ke sana kemari, dia menyatakan tidak tahu mengapa kaos itu ada di kamarku. Omong kosong, pikirku. Yah, dan setelah itu aku memang tidak memiliki niat lagi untuk berada tetap ada dikosan itu. Tapi, sesampainya di rumah, rasa sayang itu muncul kembali. Aku mulai berpikir bahwa setiap manusia pasti berbuat kesalahan dan begitupun aku. Jadi, aku punya alasan apa untuk tidak mengampuninya seperti saat aku memaafkan diriku sendiri? Setelah berpikir seperti itu, dan kurang lebih telah menyadari tiga hal penting yang harus kusampaikan sebagai permohonan maaf kepadanya, beberapa waktu kemudian aku kembali kekosan dengan niat mengobrol dengannya. Namun, apa daya, lagi-lagi dia pergi keluar dengan motor yang dahulunya kupakai. Alasannya, dia pergi nonton bola. Aku yang memang datang malam hari (sengaja, karena waktu yang tepat untuk mengobrol menurutku, di saat malam) telah memepersiapkan diri dengan sungguh untuk berbicara. 
Hampir tengah malam saat itu, aku memberanikan mulai bicara dengannya, yakni mengenai tiga hal penting. Tapi, sebelum aku memulai pembicaraan serius, Mr. T sudah banyak berbicara mengenai komunikasi kami yang tidak lancar lagi. Menurutnya, itu disebabkan oleh banyaknya momen yang kami lewatkan bersama-sama. Dia sudah berubah, pikirku saat itu. Dia bukan lagi pribadi yang tertutup seperti dulu. Dia sekarang banyak bericara, bahkan banyak yang tidak kumengerti. Dia pun berterima kasih kepadaku karena telah mengenalkannya pada Giegie. Karena gaya hidup dia berubah setelah bertemu mereka. Ya aku pun merasa senang akan hal itu. Lalu aku pun meminta giliranku. Aku tidak terlalu ingat apa saja yang kusampaikan saat itu. Kurang lebih mengenai Blackberry payah yang dia beli dariku. Lalu soal Tante D, adik Ibuku, yang mengurus kosan ini. Dan terakhir soal komunikasi yang tidak berjalan lancar. Aku pun menanyakan soal kembalinya Mr. T dengan Ms. A dan kenapa dia memilih Ms. A (aku tahu dari Giegie, dia kembali dengan Ms. A, saat dia terpuruk saat itu). Dengan duduk bersama di kasurnya, dia pun menyatakan sekali lagi, itu karena memang aku dan dia banyak kehilangan momen semenjak aku di rawat di rumah. Sesudah itu, Mr. T pun mulai berkata sesuatu tentang aku yang diakuinya sebagai "Teman Dekat" dan suatu saat dia pun akan bercerita mengenai hidupnya kepadaku. Karena menurutnya, hanya ada Natnat, Amjad, Giegie, dan Roliv yang benar-benar mengetahui bagaimana dia dan hidupnya. Mr. T juga meminta maaf saat itu. Kami pun mulai mengobrol enak hingga tertawa-tawa.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba pintu utama kosan digedor dengan kencang berulang kali. Aku dan Mr. T sangat kaget. Lalu Mr. T membuka pintu dan TARAAA ada Ms. A di sana. Dia marah-marah karena Mr. T lupa menjemputnya. Rentetan petasan di telingaku. Mengganggu sekali. Dan pada akhirnya Mr. T pergi dengannya, mengantarnya pulang. Kukira dia akan kembali, namun ternyata tidak. Aku yang mungkin saat itu sedikit gila, senang memeluk jaket Mr. T yang tergantung di luar. Jauuuh di dalam lubuk hatiku rindu itu sudah tidak dapat kutahan lagi. Hahahaha. Tapi aku kecewa mengetahui keesokan paginya, dia baru datang, bersamaan dengan Giegie dan Roliv. Katanya mereka papasan. Kami pun jadi membahas tentang tadi malam. Antara tertawa geli dan apalah, Giegie dan Roliv sepertinya merasa itu bukanlah hal yang asing lagi. Terserahlah hahahaha. Tapi untuk Mr. T itu seperti suatu hal biasa yang seharusnya bukan menjadi bahan tertawaan. Ya sudahlah, hehehehe. Aku pun sempat mengobrol melanjutkan perbincangan mengenai momen-momen kami yang hilang. Ternyata dia seperti berniat mengajakku untuk ikut serta dalam kegiatannya di gereja yang baru dia datangi akhir-akhir ini. Aku pun menolak karena aku merasa tidak ada yang membuat aku merasa kurang atau terbebani dengan apa yang kupeluk hingga saat ini. Yak, selamat menjadi single fighter!
Setelah kejadian itu banyak sekali yang harus kupersiapkan kembali untuk menata hidupku. Hubunganku dengan Mr. T menjadi lumayan baik. Aku beberapa kali menghubunginya untuk meminjam DVD dan kamarnya. Ya, karena aku pun pada akhirnya berkonflik dengan Tanteku sendiri saat beliau mengambil spring bed yang berasal dari kamarku. Aku memutuskan pindah. Inilah momen dimana Giegie dan Mr. T mulai galau terhadap keputusanku. Mereka seperti berat sekali melepasku. Aku pun sempat terpengaruh dan merasa keputusanku ini salah. Aku pun hampir putus asa saat mencari kosan di Jatinangor. Ya, Jatinangor tempatku kembali. Setelah tiga hari berturut-turut aku baru menemukannya. Aku saat itu sudah merasa kuat menghadapi kesendirianku. Meskipun sempat ku menangis merasa bersalah meninggalkan mereka berdua. Tapi Mamaku berkata, "Jangan tumbang karena orang lain!" Aku pun merasa inilah jalan Tuhan yang harus kulalui. Dan aku pun meminta maaf kepada Giegie, kepada Mr. T, berharap mereka mengerti dan menerima keputusanku ini. Terbukalah lagi jarak antara aku dengan Mr. T. Ini kusengaja, tujuanku, agar aku lebih konsentrasi dan konsisten dalam menyelesaikan skripsiku. Tapi selesaikah?

Rabu, 06 Juni 2012

Topeng itu Nyata

Ada apa dengan 07 Maret 2011? Aku menang undian? Hahaha, bukan. Aku mengalami kecelakaan motor hingga membuat aku harus tetap di rumah bahkan lebih tepatnya di tempat tidur selama hampir enam bulan.  Saat aku kecelakaan aku dengan kekuatan terakhir berusaha kembali kekosan sendiri. Sesampainya di kosan, aku langsung menelepon Mr. T (karena kupikir dialah orang yang terdekat yang dapat dengan segera menolongku). Dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya, mungkin teman kosan, di karaoke, tapi dia berjanji akan segera datang menemaniku ke RS. Namun setelah hampir setengah jam dia tidak kunjung datang. Aku menelepon kembali dan ternyata dia sedang makan bersama. APA? Kusadari saat itu sakitku bertambah. Tapi Tuhan memang sungguh baik, dia tidak membiarkanku begitu saja, karena berkat Bang Didi dan Kak Dorma, aku akhirnya diantar ke RS. Bang Didi adalah penghuni kosan terlama sampai sekarang. Dan Kak Dorma adalah orang terdekatnya (tidak tahu status jelasnya). Mereka dengan sukarela menawarkan jasa untuk mengantarku. Aku pun baru menangis saat berada di UGD saat aku menelepon Ibuku. Sedihku seakan-akan pecah saat itu. Hingga malam pun tiba, aku di antar kembali oleh mereka. Mr. T tidak datang sama sekali, tidak seperti ucapannya.

Keesokan paginya, barulah Mr. T menghubungi. Dia menanyakan sarapan apa yag kuinginkan, dan karena aku lapar, aku pun menyatakan apa yang kinginkan. Akhirnya dia datang dan kami sarapan bersama. Dan tidak lama setelah itu Mamaku datang. Dan Mama yang selalu khawatir berlebihan menjadi sangat reaktif dengan kondisiku. Akupun berusaha menenangkannya. Mamaku bertemu Mr. T dan berkenalan. Lalu tidak lama setelah itu Mr. T pun pamit. Tapi sore harinya dia kembali, bermaksud meminjam motor sekaligus menawarkan untuk mengambil hasil ronsen kakiku. Aku yang tidak dapat jalan pun hanya dapat menyetujuinya. Sudah hampir dua minggu Ibuku bolak balik Jakarta-Bandung untuk melihat keadaanku. Sudah dua kali pula cairan di lututku disedot. Sudah berkali-kali juga Ibuku membawa makanan enak untukku. Sudah berulang kali juga Mr. T memakan masakan Ibuku dan menyukainya. Ada komentar yang tidak mungkin kulupakan dari Mr. T yang menyatakan paha dan betisku besar juga setelah melihat perban di kakiku. Lalu pernah juga Ibuku meninggalkan kami berdua sendirian di kamar. Aku memang hanya bersandar di tempat tidur dan Mr. T sibuk dengan menjelajahi dunia maya dengan netbukku. Tidak ada percakapan berarti saat itu. Meskipun, mungkin ya, Ibuku berpikir ada sesuatu yang spesial di antara kami.

Singkat cerita, akhirnya aku harus tinggal di rumah demi diriku sendiri dan demi Ibuku yang merawatku. Aku mulai merasakan kesendirian dalam masa itu. Mr. T masih menghubungiku beberapa kali dan Giegie masih meneleponku. Tapi mereka menelepon, SMS, selain untuk menanyakan keadaanku juga untuk melaporkan situasi di kosan. Karena setelah Giegie benar-benar menyewa kamar sendiri di kosanku itu, dia mendapat banyak masalah dari dua penghuni kosan lain. Dan aku yang saat itu masih sangat percaya dengan dia hampir 100% mempercayainya. Namun, karena hal itu berlangsung lumayan lama, aku pun jadi meragukan, karena selama aku di sana tidak ada masalah yang berarti. Apalagi setelah Mr. T memutuskan untuk pindah kosan juga ke tempat kosanaku dan Giegie. Ya, jangan terlalu kaget dengan itu semua karena Giegie yang memintanya. Aku saat itu mulai menyadari perasaanku kepada Mr. T. Namun, meskipun masih ada rasa sakit aku rindu ingin bertemu (bahasanya zadul ya pembaca, hahaha). Hingga akhirnya aku menawarkan Blackberry teman adikku untuk dibelinya. Kondisi Blackberry itu tidaklah bagus malah sebenarnya sudah sangat payah. Tapi, sudah lama Mr. T mencari Blackberry 3G dengan harga murah, jadi kutawarkan saja.

Tidak lama setelah penawaran dariku, akhirnya Mr. T datang ke rumah tempat aku dirawat. Bukan rumah tempat biasa aku tinggal? Ya, karena rumah yang biasa aku tinggali memiliki tangga, dan itu menyulitkan penyembuhanku. Kedatangannya yang pertama sama sekali tidak lancar karena aku tertidur dan kamar kukunci (sebenarnya rumah itu dalam tahap renovasi) dan dia hanya dapat melihatku tertidur selama satu jam lebih hingga aku pada akhirnya bangun dan melihat dia menatapku lewat jendela. Betapa malunya aku menerima dia di saat aku baru bangun. Totally messed up! Tapi, peduli amat, toh meskipun aku menyukainya, dia bukan siapa-siapa bagiku. Negosiasi alot pun kami lalui, sembari dia menanyakan keadaanku dan perjalananku dalam berobat. Dan aku yang berada pada posisi antara gugup atau aneh dengan keberadaan dia (karena sudah cukup lama tidak bertemu). Sepanjang hari itu aku tidak bertanya banyak, haya menjawab pertanyaannya hingga saatnya Mr. T pulang. Aku yang cukup merasa aneh dengan percakapan tadi, akhirnya menanyakan soal Natnat kepadanya, dan dia bilang semua baik-baik saja sambil menghela napas pajang. Something's wrong here.

Mengapa aku menanyakan soal Natnat? Karena setelah kedekatanku dengan Yohanes, sebut saja begitu, peserta audisi program Trans TV itu, dia pun mulai pamer (anggapanku) hubungannya dengan Natnat. Pada suatu percakapan memang dia telah memutuskan untuk kembali dengan Natnat. Dan perasaanku saat itu? Awalnya aku hanya menganggap itu kehilangan seorang teman dekat saja. Karena dari  pengalamanku, jika seorang laki-laki telah menemukan pasangannya dia tidak akan mau dekat-dekat lagi dengan perempuan lain meskipun statusnya teman. Mereka berdua sempat datang di saat aku masih dirawat di kosan. Sambil makan pempek mereka mulai menanyakan kabarku, dan berbagi pempek itu di depanku. Antara sakit dan senang yang kurasakan saat itu. Tapi aku mulai sadar aku mulai merasakan sesuatu yang spesial yang sebentar lagi akan hilang. Mengenaskan, hal ini telah berulang kali terjadi padaku. Seperti ada yang mengatakan bahwa kamu baru menyadari betapa berartinya sesuatu, di saat kamu kehilangan sesuatu itu. Konyol, bodoh, dan sedih itulah yang akhirnya kurasakan di saat melihat mereka berdua.

Kembali ke penawaran Blackberry. Mr. T akhirnya menyerah pada negosiasi itu dan kembali datang membeli Blackberry itu. Tapi sikapnya masih aneh menurutku, seperti banyak sekali yang disembunyikan. Tapi aku hanya dia tidak banyak bicara. Karena sebenarnya dia baru saja akan datang ke pernikahan teman seangkatanku Grace. Satu hal yang membuatku kembali kecewa dan tersakiti, aku tidak di ajak olehnya menghadiri pesta itu. Padahal aku masih dapat berjalan meskipun tidak sempurna. Mungkin dia malu. Karena jika di kampus pun dia seperti tidak mau berbicara denganku. Sudah kucoba berbicara dengannya tapi dia tidak mau mengobrol sambil menatap wajahku. Thank God, tidak lama setelah itu, aku kehilangan alat komunikasiku, yang pasti berdampak pada hubunganku dengan teman-teman, termasuk Mr. T dan Giegie. Why thank? Because God is good. God know everything that I need. Berusaha menerima dan mendukung keputusan Mr. T yang kembali pada Natnat membuatku urung menghubungi atau menanyakan kabarnya. Pernah dia begitu penasaran hingga menanyakan mengapa aku tidak pernah menghubungi dia lagi. Aku hanya berkata, tidak apa-apa hanya takut mengganggu.

Sampai pada akhirnya aku sembuh dan mulai dapat berjalan jauh, aku ditemani Ibuku dan adikku beberapa kali ke kosan. Dari sinilah mulai terlihat kebenaran itu. Motor yang aku gunakan ternyata sering dipakai oleh Mr. T sampai dibawa menginap. Awalnya memang aku mengatakan bahwa kalau ingin memakainya pakai saja. Harfiahnya, orang yang telah dewasa pasti mengerti sejauh mana dia harus menggunakan motor tanpa Surat Tanda Kendaraan Bermotor alias STNK. Pernah suatu kali aku dan Ibuku datang kekosan. Aku melihat motor tidak ada, dan saat itu Giegie sedang keluar kota. Langsung pikiranku tertuju pada Mr. T. Dihubungi, di telepon tidak di angkat. Padahal sudah aku coba juga lewat telepon selular Ibuku. Saat besoknya ditanya motor dipakai atau tidak, dia malah tidak mengakui memakainya dari siang, waktu dimana aku dan Ibuku sampai di kosan. Huuufh. Aku, terlebih Ibuku, kecewa. Aku akui, aku menikmati liburan ke Pulau Untung Jawa lalu ke Danau Toba setelah aku dapat berjalan kembali. Dan setelah aku beberapa kali ke Bandung, mungkin karena kejadian motor itu, entah mengapa aku lebih memilih menginap di tempat temanku dibanding ke kosan dimana Mr. T berada. Sampai ada suatu momen sebelum aku berziarah ke Danau Toba, aku ke Bandung, dan Mr. T mengetahuinya. Dia menanyakan apakah aku tidak datang ke kosan, aku jawab tidak.Ternyata setelahnya aku baru tahu dari Giegie, jika saat itu adalah saat terpuruknya.

Maafkan aku tidak tahu jika dia memang hanya sendiri saat itu. Giegie sedang di Lampung dan aku tidak ingin ke sana. Seandainya aku di sana saat itu mungkin keadaan akan berbeda. Sampai aku pulang dari Medan, aku pun kembali ke kosan. Aku membawa oleh-oleh baju untuknya dan Giegie. Karena kondisiku yang masih memerlukan kontrol setiap minggunya, aku pun harus bolak-balik Jakarta-Bandung. Mungkin di saat aku memberikan oleh-oleh ituadalah saat yang tidak tepat. Aku benar-benar cemburu dengan kedekatan Mr. T dan Giegie. Dan aku yakin itu terlihat jelas di wajahku. Akhirnya oleh-oleh itu hanya kuletakkan begitu saja setelah kami menonton film bersama di kamar Mr. T. Aku kepalang kesal hingga tidak mau di ajak keluar sama sekali. Sampai esoknya aku memilih pulang ke Jakarta. Namun, saat kembali bersama adikku dan Ibuku, ada suatu hal yang membuatku terkejut. Oleh-oleh dariku untuk Mr. T ada di tempat tidurku terbalik dan seperti dilemparkan begitu saja. Oh God! Sungguh mengecewakan sungguh sakit hati ini. Dan adik juga Ibuku mengetahuinya. Betapa menjengkelkan Mr. T sebenarnya.

Senin, 04 Juni 2012

Saat Ku Menata

Tepat pukul 23:59. Huufh nyaris saja hehehe. Janji adalah keharusan. Meskipun kuakui, aku pun pernah melanggar janji yang kubuat sendiri. Seperti yang kulakukan 26 Mei 2012 lalu. Aku seharusnya menjadi fotografer untuk acara lingkungan dari YPBB (aku lupa singkatan dari apa). Sebenarnya aku datang, namun aku sangat terlambat hingga aku percaya diriku keburu hilang lenyap dibawa jerawat-jerawatku (apa hubungannya?) hahaha. Jadi aku pun hanya dapat meminta maaf dan akan ikut di kesempatan yang akan datang. Maaf aku tidak mampu memenuhi janjiku. Cerita janji barusan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan cerita yang akan kusampaikan. Karena cerita ini cenderung merupakan cerita lanjutan. Ya, kemarin aku berkisah sampai kepada terpilihnya kami berdua, aku dan Mr. T, untuk bertugas bersama sebagai Transmania melanjutkan audisi di Jakarta. Hari itu aku dan Mr. T tidak berangkat bersama karena lokasi kami yang berbeda. Kami berjanji akan bertemu di jalan masuk Gedung Bank Mega. Ada kisah memalukan, untukku, yang ingin kutulis disini. Pemanggilan ini sifatnya mendadak. Jadi aku yang sedang berlibur di rumah tidak membawa seragam tugas Transmania. Itu semua kutinggal di Bandung. Jadi aku pun menitipkan pada Giegie untuk menyiapkan itu beserta dengan pakaian dalam secukupnya karena penugasan ini mengharuskan kami menginap selama empat hari di hotel dengan calon peserta dan karena kebanyakan pakaian dalamku ada di lemari kosan.
Setelah menyatakan hal itu, aku pun merasa santai karena percaya Giegie pasti akan menyusunnya dengan baik. Sampai pada pagi di pertemuan aku dan Mr. T di Jakarta, aku langsung sontak terkaget dan terdiam melihat tas yang diberikan Mr. T kepadaku. Sungguh memalukan! Ternyata Giegie tidak menaruh pakaian dalamku di antara tumpukan seragam tapi malah menyusunnya di samping seragam itu! Huwaaa! Aku jadi membayangkan apa yang dipikirkan Mr. T yang selama dua jam memegang tas itu dan berkesempatan kapan saja melihat ke dalamnya. Wew! Aku berusaha santai tapi pada akhirnya aku merasa geli dan membicarakan hal itu dengan Giegie. Dan dia pun terbahak. Dasar memang! Aku hanya berharap Mr. T yang susah bangun pagi dan sering mendapat emosi yang buruk kalau diminta berangkat pagi itu, hanya benar-benar tidur sepanjang perjalanan dan tidak berminat melihat apa isi tas titipan itu. Lalu, kami pun pada akhirnya bertemu Transmania lainnya di Kantin Bank Mega. Ya, karena kami memang bukan yang asli Jakarta, kami pun tahu diri dengan kembali memperkenalkan diri kami masing-masing kepada mereka. Tibalah saat pembagian tugas. Mr. T selalu berkata kepadaku bahwa dia tidak mau jauh-jauh dariku karena cuma aku yang dikenalnya. Aku pun hanya mengatakan tidak usah khawatir, tidak apa-apa, mereka juga mengerti. Dan benarlah kami ditugaskan di hotel yang sama.
Ternyata kekhawatiran Mr. T memang tidak terbukti. Nyatanya, dia langsung dapat berbaur dengan yang lain. Ya, karena faktor wajah yang ganteng juga, dia jadi banyak disukai oleh para Transmania perempuan, termasuk Killa, yang tergolong cantik. Pada hari pertama saja sudah banyak sahutan yang memanggil nama Mr. T. Mulai dari acara berkumpul atau seterusnya. Tugas kami saat itu sebenarnya sederhana. Kami memegang peran sebagai Liasion Officer (LO) atau penghubung antara peserta dan audisi tersebut. Masing-masing LO memegang lima peserta. namun, selain sebagai LO, kami pun ditugaskan untuk mengamati tingkah laku peserta dan menilainya. Dan bagiku, ada seseorang yang cukup menarik dari peserta yang kupegang, yang ternyata seusia dan seagama denganku. Kejadian langka itu, hahaha. Namun, dia tidak masuk tahap yang kedua, dan akhirnya pulang di hari kedua. Sayang sekali memang. Tapi untungnya kami sudah bertukar nomor telepon hehehe. Untuk nama dan cerita selengkapnya tunggu dulu ya, satu-satulah hehehe.
Ini terjadi di awal tahun 2011. Sekitar akhir Januari. Hari pertama aku merasa baik-baik saja dengan para Transmania lain dan peserta. Di hari kedua, Mr. T mulai berkomentar bahwa kami yang dari Bandung seperti tidak dianggap oleh Transmania lain. Aku masih menanggapinya dengan menyatakn itu hanya perasaannya saja. Tapi, di hari ketiga aku mulai merasakan kejanggalan. Sepertinya para Transmania perempuan Jakarta ini tidak suka melihat kedekatanku dengan para peserta. Padahal aku ini sengaja mendekati karena ingin menjalankan tugas mengenal kepribadian mereka juga. Jadilah saat itu aku seperti dijauhi. Aku yang tidak pernah mengalami ini saat audisi Bandung, menjadi geram setengah mati. Apalagi saat itu Mr. T tidak bersamaku melainkan bersama Killa, mengantar para peserta audisi tes kesehatan. Entah mengapa aku pun merasa kesal saat mengetahui yang pergi bersama Mr. T adalah Killa. Yah, tapi itu hanya sesaat karena akhirnya lewat Blackberry Messenger aku masih dapat mengobrol dengan Mr. T dan ternyata di sana memang masih menunggu saja. Akhirnya aku dan salah satu anak baru Transmania ditinggal untuk diminta jaga tas para Transmania ini sembari mereka membeli minum dan lain sebagainya. Di saat itulah aku menelepon Giegie menceritakan semua kekesalan. Dia terbahak dan meminta aku sabar karena memang para Transmania Jakarta ini bermuka dua. Yah, apa mau dikata, sabar adalah jalan terbaik.
Tidak terasa hari keempat sudah kami jalani. Aku merasa disitu hubungan Mr. T dan Killa menjadi intens tapi entahlah mungkin hanya penglihatanku saja. Sampai pada saatnya kami pulang, kami pun langsung menuju Bandung bersama dengan para peserta yang lain. Yang kusedihkan saat itu Mr. T tidak mengatakan apapun tapi langsung mengambil tempat duduk lain. Jadilah sepanjang jalan tidak ada yang kami obrolkan sampai di taksi yang menuju daerah kosan kami pun, aku yang kepalang kesal, malas menanggapi bantuannya untuk membawa barang-barangku. Dan malah dengan jutek aku meminta dia untuk tidak berbasa-basi. Setelah itu aku pun mulai malas untuk bersama-sama dengan Mr. T. Aku hanya meminta saran saja karena aku sedang berdekatan dengan peserta audisi itu. Sampai pada aku akhirnya berjalan berdua dengan peserta audisi itu. Aku pun terbuka bercerita kepada dia. Meskipun tidk semua hehehe. Namun, kejadian 07 Maret 2011, mulai menguak semua kebenaran yang terselubung. 

Sabtu, 02 Juni 2012

Waktunya Mendengar

Sudut kanan bawah menunjukkan 21:20 WIB. Sudah setengah tahun berlalu sejak terakhir kutulis kisahku dengan Mr. T. Saat ini aku tersenyum sembari kembali mengingat malam-malam kami di Braga. Setelah hari-hari itu, aku kembali masih terhanyut dengan keterpurukan karena manusia bernama Aga. Tapi, terima kasih Tuhan, aku mampu mengalihkan pikiran dan rasa yang begitu negatif dengan berolahraga yakni berenang. Aku melakukan rutinitas itu kembali. Ketika berenang aku merasa dapat melepaskan emosi yang tidak seimbang mengalir bersama air. Ya, sekalian menguruskan badan karena aku yang menjadi penerima tamu saat pernikahan abang kandungku. Pada masa itu, aku dan Mr. T sempat beberapa bulan tidak berkomunikasi lebih mendalam selain hanya sapaan. Sampai pada akhir tahun 2010, aku dan dia kembali mengadakan temu janji makan malam (jangan membayangkan restoran mewah dengan lilin cantik dan makanan lezat, justru sebaliknya kali, hahahaha). Kami makan di warung sate di daerah kosan kami, yang selalu penuh ketika dilewati. Pertemuan ini seperti melepas kangen sebenarnya hehehe.
Sambil menunggu pesanan datang, aku dan Mr. T pun berbagi soal yang terjadi dalam hidup kami. Aku bercerita tentang pernikahan abangku dan dia menceritakan mengenai kondisinya yang sempat sakit beberapa waktu sebelumnya. Aku kaget, spontan meminta maaf, karena aku tidak tahu. Lalu aku berkomentar soal potongan rambutnya yang terlihat pendek. Selalu, jika melihat orang memiliki rambut baru, dalam artian dipotong pendek, celetukan yang sama pasti mengalir dari mulutku, yakni, "Lagi patah hati ya?" Hahaha. Awalnya dia menyangkal, dia mengatakan tidak potong rambut. Tapi setelah aku tanya  mengenai hubungannya dengan Ms. A, dia pun menarik napas panjang. Refleks, kutanya mengapa? Dia pun mulai bercerita. Sudah kurang lebih empat bulan (berarti bulan Juli 2010), kalau tidak salah ingat, dia putus dengan Ms. A. Dia bercerita itu semua karena sebuah foto. Foto yang dilihat oleh ibunya, tepat setelah dia menceritakan hubungannya dengan Ms. A. Ibunya mempertanyakan (sambil menunjukkan foto tersebut) apakah benar perempuan seperti ini yang akan dia pilih. Untuk sejenak dia menghentikan makan lalu melanjutkan. Setelah ibunya mengatakan hal seperti itu, dia pun berpikir. Dan juga meminta saran dari beberapa teman laki-laki di kampus kami. Caranya dengan menunjukkan foto itu setelah memotong bagian wajahnya. Dan temannya menyatakan pose itu parah.
Jika dideskripsikan, dalam foto itu Ms. A sedang berlibur dengan dua temannya bersama wisatawan asing alias pria-pria bule. Mereka mengambil banyak foto, ada yang beramai-ramai, ada pula yang hanya berduaan. Ada satu foto dimana Ms. A berpose saling berhadapan dengan mimik bercanda mencengkeram dengan baju yang selayaknya orang di pantai (terlalu terbuka). Ada pula foto di saat mereka beramai-ramai dengan para pria bule itu dengan paha Ms. A dipegang oleh salah satu bule. Dan masih banyak lagi. Itulah yang dia katakan kepadaku, bahwa setelah dipikir matang-matang, dia mau mengakhiri hubungan dengan Ms. A. Selesai dia menceritakan itu, aku dan dia hanya diam dan menikmati sate kami masing-masing hingga saatnya kembali ke rumah mungil kami masing-masing. Perasaanku saat itu masih tidak jelas. Antara aku senang, sedih, yang jelas aku hanya berusaha menyembunyikannya dari hadapan Mr. T.
Setelah itu kami pun semakin sering terlihat bersama. Berangkat ke kampus bersama, pulang kampus bersama, mencari makan malam pun besama, hingga kami digosipkan bersama, hahahaha. Ada satu cerita yang membuat aku sempat merasa istimewa untuknya. Di saat kami masih sering menghabiskan waktu bersama, waktu itu pulang dari kampus, kami yang tidak mendapat tempat duduk di DAMRI (angkutan wajib mahasiswa yang tinggal di Bandung), terpaksa berdiri sampai ada tempat duduk yang kosong. Tanpa sengaja, aku bertemu dengan teman SMP bernama Yoga. Ya, sedari dulu sekelas, aku memang senang melihat kelakuan jahilnya kepada Galuh. Kami pun ngobrol, tentunya Mr. T pun aku kenalkan. Tapi sepertinya kami asyik sekali mengobrol berbagai macam hal sampai Yoga turun. Baru setelah itu, aku sekilas melihat raut muka Mr. T yang kesal karena dia tidak diajak mengobrol atau karena dia cemburu? Entahlah, yang jelas setelah itu dia menanyakan siapa Yoga dan kujawab dia teman sekelas sewaktu SMP, komentar ini pun keluar dari mulutnya, "Akrab banget ya" sambil melihat Blackberry nya.  Kemudian dia memutar badannya membelakangiku dan sibuk dengan Blackberry di tangannya. Aku merasa geli sendiri jadinya, hahaha.
Di saat banyaknya kami menghabiskan makan malam bersama, ada satu malam dimana kami mau mencoba memakan daging dewa di tempat yang menurutnya enak karena sudah beberapa kali disana. Aku pun mau karena sudah lama sekali tidak memakan daging itu hahaha. Letaknya di dekat  Bandung Indah Plaza, depan Taman Kota Bandung. Aku yang baru pertama kali ya pastinya bertanya sama dia, apa yang enak. Dia mengatakan fu yung hai. karena aku tidak ingin memakan nasi atau tidak ingin memesan menu yang sama, aku pun memesan menu lain. Nah, di waktu menunggu makanan kami datang inilah, aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Dia menatapku begitu lekat sampai aku merasa risih. Lalu aku pun hanya menunduk, tanpa bertanya. Lalu tanpa ditanya, dia menceritakan mengenai tempat itu. Dia mengatakan bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat favorit dia dan Natnat. Aku hanya mendengar tak berkomentar sampai makanan datang. Bihun goreng yang kupesan lumayan. Tapi memang, fu yung hai nya tak ada duanya, laziiis! Hahaha. Tanpa sadar, aku yang memang doyan makan, banyak menghabiskan fu yung hai yang satu porsinya bisa untuk dua orang. WOW. Aku tersadar saat dia mengatakan bahwa makanku banyak Dan saat itu juga aku malah makin menambah kecepatan makanku hahahaha. Irene, Irene, ditegur seperti itu harusnya kamu paham, kalau dia tidak suka dengan perempuan yang makannya banyak. Itu yang ditulis di majalah-majalah pembaca hehehe. Ketika itu aku sangat kesal karena merasa dibandingkan dengan Natnat. Karena aku berpikir aku bukan Natnat dan karena aku tidak punya hubungan apapun dengannya, jadi kujawab "Memang" untuk komentarnya itu.
Namun, di kosan aku pun jadinya mencurahkan itu semua kepada Giegie, salah satu teman SMP yang sedang tinggal bersamaku. Aku merasa itu waktu yang tidak menyenangkan dan setelah itu aku jadi malas jika diajak mencari makan malam yang enak olehnya. Aku menyindir dengan berkata bahwa aku akan buat dia malu karena aku makannya banyak. Giegie yang telah kenal dia juga, menyampaikan kekesalanku itu, dan setelah dibicarakan, mereka tertawa, aku pun akhirnya tertawa. Ya, kami bertiga menjadi dekat satu sama lain. Setelah aku mengenalkan Giegie, kami sempat makan dan berfoto bersama di Braga Permai. Ya, tercipta lagi momen indah di sana. Meskipun Mr. T terlihat acuh tak acuh. Aneh memang setelah itu kami bertiga semakin dieratkan dengan proyek kerja bersama menjadi Transmania. Sebuah klub pecinta Trans TV.  Kami menjadi kru audisi program-program Trans TV. Audisi yang pertama menyatukan kami itu di Bandung. Setelah dua hari penuh bekerja bersama dan kelelahan, kami masih sering bersama setelahnya. Sampai akhirnya, Giegie mndapat tawaran melanjutkan menjadi kru audisi di Jakarta. Karena dia sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa akhirnya aku dan seorang yang lain yang dimintanya pergi. Karena aku yang saat itu di Jakarta lebih mudah mencapai lokasi tidak membayangkan bahwa ternyata seorang yang lain itu adalah Mr. T. Doki-doki!

Kamis, 10 November 2011

Saat Ku Melayang

11:00 AM. Setelah memberikan wajah ini masker ampas kopi pagiku, aku sangat ingin kembali membuka blog ini. Aku sedang merasa aneh dengan diriku. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini. Sepertinya, kata santai telah hilang dari kamus kehidupanku. Dalam ingatan ada mereka, ada dia, Mr. T. Ya, dia pernah kusebutkan sebelumnya. Dia yang mau mendengarkanku, menemaniku, mengecewakanku, menyakitiku, dan pada akhirnya membuat aku terjatuh lagi dalam cinta. Ya, dia masih seperti kado terindah dari Tuhan. Kado yang membuat aku belajar lebih banyak lagi tentang rasa. Aku ingin berbagi cerita disini, aku ingin menuangkan kekuatan hati ini menjadi cermin pengalamanku menghadapi diriku sendiri. Harus kuakui, aku kembali terjebak dengan pikiranku sendiri terutama dengan hati indah ini.
Sudah sejak awal kuliah aku mengetahui sosok Mr. T. Kami pun sempat menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-teman seangkatan yang lain pada suatu momen di awal tahun kami kuliah. Dari semula aku melihat dia, aku tertarik karena dia pernah mengatakan hal yang sangat menarik. Saat itu, kami di angkutan umum, bersama-sama kembali ke Jatinangor, tempat kami menimba dan beradu ilmu. Banyak sekali yang kami perbincangkan dan salah satunya mengenai dia, yang dibandingkan dengan abangnya yang lebih putih, lebih tinggi, dan telah mapan. Aku ingat sekali, saat itu ekspresi wajahnya langsung berubah dan dengan membara dia langsung mengatakan bahwa suatu saat nanti, dia pasti akan lebih putih, tinggi, dan lebih mapan dari abangnya. Aku yang mendengarnya hanya dapat tertawa dalam hati. Menarik sekali! Hahahaha, seorang laki-laki berani mengakui kelemahan melalui kalimat optimis seperti itu, hahahaha. Setelah itu kami sempat makan bersama. Sebelum menentukan tempat makan kami berdiri melihat sekeliling. Di saat itu, aku terkejut. Dia sempat meletakkan kepalanya di bahuku. Aku hanya terdiam melihatnya, begitu pula salah seorang temanku, yang membuka perbincangan mengenai dia di angkutan umum tadi. Momen beberapa detik itu, entah mengapa, tidak dapat kulupakan.
Beranjak ke tahun kedua kami kuliah, aku dan dia tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Aku hanya pernah terlibat liburan bersama saat ke Bali di tahun ketiga kami kuliah. Dan saat itu dia berangkat bersama pacarnya, Natnat, adik angkatan kami. Aku tidak memiliki prasangka atau apapun dalam hati melihat mereka berdua. Malah kami berempat, dengan Ceu Mar, sempat menghabiskan waktu di pantai Kuta berjalan bersama. Aku, Ceu Mar, dan Natnat juga berada dikamar hotel yang sama. Kami berempat juga makan nasi Jinggo (makanan khas Bali, seperti nasi kucing di Jogja) bersama. Aku senang mengenal Natnat. Dia asyik. Dia bercerita kalau dia nekat berbohong kepada orangtuanya demi liburan bersama Mr. T. Hahaha, aku senang melihat mereka berdua, serasi. Aku pun mengalami liburan yang menyenangkan saat itu hehehe. Di tahun ketiga, kami pun sempat bersama-sama dalam satu momen. Kami mengikuti praktikum profesi ke tiga negara ASEAN bersama. Saat di Singapura, dia sempat berjalan bersama denganku menuju Sentosa. Berbincang sedikit mengenai kuliah, aku pun sempat menanyakan kabar Natnat. Aku kembali terkejut, mendengar dia putus dengan Natnat. Aku pun hanya dapat turut menyayangkan kejadian itu. Hanya sampai di situ kami mengobrol.
Saat itu bulan Oktober 2010, setelah pernikahan abangku. Saat itu aku sedang sangat galau karena Aga. Saat itu banyak orang yang kuminta pendapat mengenai rasa dan sikap. Dan saat itu, aku meminta opini Mr. T juga. Perbincangan itu, hanya lewat Yahoo Messenger. Perbincangan yang kumulai. Aku menangis saat bercerita dengannya. Aku sedih sekali. Bahasa dia yang begitu budiman dan pengertian saat itu, menghiburku. Sampai akhirnya dia mulai memberiku perhatian. Ternyata kosan kami berdekatan. Kami pun jadi lumayan dekat. Kami berangkat kampus bersama. Kami pulang juga bersama. Kami menghadiri pameran seni di monumen perjuangan, pameran komputer, dan pameran buku bersama. Kami pun sering makan malam bersama. Aku paling senang saat kami makan malam bersama di Braga Permai. Saat itu hujan gerimis. Kami berdua seperti biasa, ingin menjelajah wisata kuliner di Bandung. Aku yang telah lebih dulu kenal daerah Braga, aku mengajaknya makan es krim di Sumber Hidangan. Saat itu masih ada es krim vanilla rum. Dia sangat menyukainya. Setelah itu aku mengajaknya mencoba Bolognese Pizza di Braga Permai. Ya, di saat itu, aku merasa sangat senang dengan suasananya, begitu juga dengan dia. Dia mengatakan bahwa kami seperti sedang di luar negeri. Dengan para turis asing di sekitar kami yang menyantap makan malam. Suasanan gerimis ditambah lampu-lampu jalan menerangi bangunan-bangunan tua di sekitar kami, sangat memperindah suasana malam itu.    
Aku pun banyak tertawa, tersenyum hingga mengatakan aku harus menbawa Aga ke tempat ini. Aku yang terkesan cool (entah keren atau pendiam maknanya) di kampus, membuat dia terheran-heran, karena saat itu aku berbeda sekali. Hahahaha. Aku dikatakan seperti anak kecil yang senang sekali. Aku memang sangat senang. Sepertinya, panorama tempat itu menghias penuh hatiku hahahaha. Sampai saat pulang pun kami sepertinya senang sekali. Malam itu sangat menyenangkan. Pernah juga di kesempatan yang lain kami mengunjungi Braga. Kali ini kami ingin mencoba tempat makan yang lain. Kami pun ingin mencoba makan di Braga Cafe. Saat itu hujan gerimis lagi-lagi membasahi Bandung. Setelah berjalan cukup jauh dengan berpayungan berdua, kami pun sampai. Namun malangnya bagi kami, setiap jenis makanan yang ingin kami pesan telah habis semua. Karena tidak ada lagi yang ingin kami pesan, pada akhirnya kami kembali ke Braga Permai, saling mendekatkan diri satu sama lain di bawah payung kecil yang dia pegang. Kami tetap menikmati malam itu. Lagi-lagi malam yang basah (hei jangan piktor, jalan yang basah maksudnya, hahahahaha). Ya, ternyata masih ada juga saat-saat menyenangkan setelah hati ini remuk redam hehehe.

Kamis, 20 Oktober 2011

Saat Ku Belajar

Tidak terasa hampir setahun aku meninggalkan acara tulis menulisku disini. Pastinya semua kangen dong ya? Hahaha. Begitu indah perjalanan yang aku lalui setelah postinganku yang terakhir. Aku mengalamai banyak kemelut setelah surat itu tersampaikan. Ya, akhirnya aku banyak merevisi surat tersebut, dan meminta tolong sepupuku, yang kuliah di kampus yang sama untuk menyampaikannya. Sepupuku sempat bertanya, apakah aku yakin akan memberikannya? Apakah aku akan siap dengan segala kemungkinan yang terjadi? Aku menyatakan siap. Dan ternyata aku ditolak oleh Aga. Balasan yang dia berikan kepadaku lewat sms, sudah cukup menjelaskan banyak hal. Dia mengatakan tiga hal (tapi entah benar atau tidak ya, lupa-lupa ingat, hehe). Pertama, dia tidak pernah menyangka bahwa apa yang kupikirkan serumit itu. Kedua, dia meminta maaf telah membuatku merasakan hal istimewa ke dia. Dan ketiga, dia mengatakan aku akan dapat seseorang yang lebih baik dari dia. Sejujurnya, setelah menerima jawaban itu, aku menyadari kehancuran yang total telah terjadi di dalam hatiku.
Sulit menerima itu semua. Aku hanya diam untuk beberapa saat. Di waktu dia berulang tahun, di tanggal yang sama dengan hari Ibu, aku masih tetap mengucapkan selamat lewat buku muka miliknya. Aku masih berusaha berpikiran positif di tengah kehancuran hatiku. Sampai akhirnya di akhir bulan Desember 2010, aku melihat status hubungan dia yang sebenarnya. Ternyata dugaanku benar. Perempuan itu adalah teman magangku di KCBI (Kantor Cabang Bank Indonesia) Bandung. Aku mulai mencurigainya saat dia dan perempuan itu tiba-tiba berteman di facebook. Aku pun mencoba berbicara lewat YM dan sms dengan perempuan itu. Namun, di saat bulan Oktober 2010, dia mengaku belum memiliki hubungan apa-apa. Tetapi, semuanya sudah terjawab. Ternyata memang perempuan itu yang Aga pilih. Aku mengetahui perempuan itu sbagai pribadi yang religius, fokus, dan serius. Kurang lebih seperti itu saat ku mengenalnya. Perasaanku campur aduk. Di satu sisi, aku merasa ini tidak adil bagiku. Aku marah, kesal, dan mencaci diriku sendiri karena aku menggangap diriku bodoh. Sangat bodoh! Aku menangis berhari-hari. Aku tidak ingin kemanapun atau bertemu siapapun. Sampai akhirnya aku hanya dapat berbagi cerita dengan adikku dan Citra, sahabatku, serta Mr. T, seorang pendengar yang sangat baik, pada awalnya. Mengapa? Tunggu kelanjutan kisah Mr. T di lembaran yang baru.
Batinku masih sakit saat aku memberanikan sms perempuan itu untuk menanyakan bahwa, mengapa tidak dari dulu saja kamu katakan apa yang kamu rasakan. Aku melanjutkannya dengan kalimat dimana aku merasa dibohongi oleh mereka. Wow, berlebihan ya? Hahaha. Namanya juga lagi broken heart, hehehe. perempuan itu hanya membalas dengan kata-kata bahwa aku tidak akan mendengarkan karena ceritanya panjang dan she said sorry for that. Aku pun mengatakan bahwa aku siap mendengarkan. Tapi setelah itu perempuan itu tidak membalas lagi. Alhasil, aku melewati Desember yang benar-benar kelabu. Saat ku merasa kelahiran Kristus akan menjadi kelahiran baru bagiku juga, ternyata aku belu dapat lahir bersama Kristus. Hingga tahun baru, semakin jatuh dan jatuh diriku ini. Itu fase terberat dalam hidupku. Sempat di awal Januari 2011, Aga memulai obrolan denganku lewat YM. Namun, aku yang masih sakit, menanggapinya dengan emosional. Aku lepas kontrol. Padahal saran Mr. T, aku harus bersikap sangat dingin untuk menunjukkan dia bukan lagi seseorang yang berharga bagiku. Pembicaraanku dengan Aga, menurutku, benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak pernah menghargai aku sebagai perempuan apalagi temannya. Dia seperti melecehkan aku yang agresif dan konyol menganggap hal seperti ini begitu penting. Ini baru aku sadari setelah aku mengakhiri percakapan itu dengan mengaku bersalah lalu meminta maaf kepadanya. Sungguh tidak punya nilai berarti diriku saat itu, ckckck.
Untungnya di saat yang genting itu, aku selalu ditemani oleh seseorang bernama Mr. T. Dia teman seangkatanku. Dia yang selalu mendengarkanku, memberikan pendapat tentang peristiwa yang kualami. Jadi saat aku sudah putus harapan dengan Aga, aku yang masih melayang dan tentunya tidak mensyukuri keberadaan Mr. T di sampingku, masih tetap dalam kegalauan yang memuncak, hahaha. Belum kawan, belum kawan pembaca, belum aku merasakan aku harus membuka hatiku untuk seseorang yang lain, hehehe. kembali ke peristiwa Mr. Tiga Huruf, hehehe. Aku seseorang yang keras dan aku berpikir karena alasan itulah mereka berdua tidak dapat menceritakan apapun kepadaku. Padahal, jika kalian berdua baca ini, Aga, Bertha, aku lebih baik mengetahui tentang kalian yang sebenarnya, dibandingkan harus didiamkan seperti ini. Pada akhirnya aku dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang benar-benar baik, setulus hati, sepanjang masa. Karena pada akhirnya manusia akan kembali memperhatikan dirinya sendiri, bahkan seringkali melakukan kebaikan yang sebenarnya tidak akan berujung menjadi suatu kebaikan bagi sesamanya. Mungkin ini terlalu skeptis, tapi itulah dunia, bumi.